BOS Tidak Cukup, SMAN 2 Bekasi Diduga Bebankan Pungutan kepada Siswa Kelas X

BOS Tidak Cukup, SMAN 2 Bekasi Diduga Bebankan Pungutan kepada Siswa Kelas X
SMAN 2 Bekasi. Foto: Istimewa

POJOKSATU.id, BEKASI – SMAN di Kota Bekasi yang diduga melakukan pungutan terhadap siswa kelas X kembali bertambah.


Kali ini kabar itu menerpa SMAN 2 Bekasi yang diduga memungut sebesar Rp7.500.000 kepada tiap siswa kelas X.

Pungutan sebenarnya Rp7.219.573 dan dibulatkan pihak sekolah menjadi angka yang telah disebutkan di atas.

Hal tersebut diketahui setelah orang tua siswa mendapatkan undangan dari pihak sekolah untuk memaparkan program sekolah.


BACA JUGA: SMAN 3 Bekasi Viral Nih, Pihak Sekolah Diduga Minta Pungutan Senilai Jutaan Rupiah

Salah satu orang tua siswa, yang enggan disebutkan namanya tersebut, menerangkan setelah dilakukan pemaparan yang dilakukan pihak sekolah, barulah pihak sekolah SMAN 2 Bekasi menerangkan keuangan yang dibebankan kepada para siswa.

“Komite bilang bahwa dari BOS daerah ataupun ataupun BOS pusat tidak mencukupi untuk kegiatan belajar mengajar sekolah,” ungkapnya, kepada Pojoksatu.id, Senin, 21 November 2022.

Berdasarkan Surat Edaran yang diterima Pojoksatu.id, terlihat dalam dana yang dibebankan itu sendiri terlampir untuk kebutuhan sekolah.

Kebutuhan yang dimaksud yakni, dana operasional kegiatan kepala sekolah, dana operasional kegiatan wakil kepala sekolah, dana operasional kegiatan tu, honor guru honorer sebanyak 47 orang, honor wali kelas, honor pembina ekskul dan juga OSIS sebanyak 16 orang, honor kepala lab dan perpustakaan.

BACA JUGA: Soal Pungutan yang Jadi Viral, Kepala SMAN 3 Bekasi Beri Penjelasan

Dia menerangkan, bahwa dana itu sendiri tidak dibebani sepenuhnya kepada orang tua siswa. Namun, dana yang diberikan dari pihak orang tua siswa bervariasi.

“Ada yang ngisi 2 juta, ada yang ngisi 3 juta dan ada juga yang ngisi full 7.5 juta, itu bervariasi,” tegasnya.

Pihak orang tua siswa, mengaku keberatan biaya sebesar Rp 7.500.000 yang harus dibebankan kepada orang tua siswa.

“Sangat keberatan sekali, kenapa tidak dari awal di kasih taunya. Malah di kasih tahunya ketika proses belajar mengajar sudah dilakukan,” tutupnya. (Adika F Utomo)