Pemulung di TPAS Burangkeng Tak Pernah Tersentuh Program Pemerintah

Pemulung di TPAS Burangkeng Tak Pernah Tersentuh Program Pemerintah
Amah, salah seorang pemulung di TPAS Burangkeng, Kabupaten Bekasi. Foto: Pojoksatu.id/Andi Saddam

POJOKSATU.id, BEKASI – Salah seorang pemulung di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Burangkeng, Amah, sudah 20 tahun memulung di lokasi tersebut.


Warga Kampung Jati, Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasin itu tidak pernah mendapat bantuan apapun bahlan saat pandemi covid-19 melanda.

“Enggak pernah dapat bantuan, orang-orang dapat beras saya enggak. Pernah dimintai KK tapi gak dapat bantuan,” jelas saat ditanya wartawan di tempatny memulung, Senin, 26 September 2022.

Pemerintah pun, tutur Amah, tidak pernah memberikan semacam pembinaan atau apapun kepada dirinya dan teman-teman pemulung lain.


BACA JUGA: Prabu PL Dorong Pemerintah Perhatikan Pemulung di TPAS Burangkeng

“Maunya dapat (bantuan dari pemerintah, Ed). Karena saya juga orang enggak punya,” tutur dia.

Saat itu wanita asli Kampung Jati itu sedang istirahat memulung. Dengan sabar dia menjajarkan sampah yang dikumpulkannya dalam karung besar dengan rapi.

Dalam sepekan dia mengatakan mendapat penghasilan kurang-lebih Rp300.000. Dia berangkat saat matahari belum meninggi, dan pulang sejenak saat waktu zuhur. Setelah itu dia kembali mengumpulkan sampah plastik dan kaleng hingga senja menjelang.

Persatuan Pemuda Burangkeng Peduli Lingkungan (Prabu PL), forum lingkungan hidup dan sosial kemasyarakatan yang concern TPAS Burangkeng, kini tengah mendata pemulung yang biasa mengais sampah di TPAS Burangkeng.

BACA JUGA: Lurah Burangkeng Usul Pemkab Bekasi Bentuk Tim Penyelesaian Masalah TPAS Burangkeng

Carsa menginginkan pemulung mendapat perhatian seperti di Kota Bekasi yang hingga kini belum diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi. (Andi Saddam)