POJOKSATU.id - Kasus yang menyeret nama Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria, akhirnya mulai menemukan titik terang.

Polres Lebak memastikan segera memproses pencabutan laporan terhadap orang tua siswa yang sebelumnya menjadi terlapor dalam dugaan kasus kekerasan fisik di sekolah tersebut.

Kabar tersebut disampaikan langsung setelah Kapolres Lebak AKBP Herfio Zaki menerima kunjungan sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, termasuk Sekda Lebak Budi Santoso, Resti Komalasari, serta anggota DPRD Banten Musa Weliansyah.

Baca Juga: Perkuat Penanganan Hukum, KAI Daop 3 Tandatangani Kerja Sama dengan Kejari Majalengka

Mereka datang bersama pihak sekolah untuk memastikan penyelesaian kasus berjalan damai.

Sebagaimana diketahui, kasus ini bermula saat Dini Fitria dilaporkan oleh keluarga salah satu siswa ke Polres Lebak pada Jumat (10/10/2024).

Laporan itu muncul buntut dugaan kekerasan fisik yang terjadi setelah Dini menegur siswanya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Targetkan Dua SMP Baru Berdiri di Ciputat pada 2026

Peristiwa ini sempat memicu perhatian publik dan viral di media sosial, memunculkan berbagai tanggapan tentang ketegasan aturan sekolah dan perlindungan terhadap tenaga pendidik.

Namun kini, situasinya mulai mereda setelah kedua pihak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

“Proses pencabutan laporan akan segera dilakukan sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” ungkap Kapolres Lebak AKBP Herfio Zaki kepada awak media, Kamis (16/10/2025).

Baca Juga: Panduan Lengkap Membuat Akun SIMPKB untuk Pendaftaran PPG Calon Guru 2025

Langkah damai ini mendapat dukungan luas dari masyarakat dan para tokoh pendidikan.

Banyak yang berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran penting agar ke depan tidak terjadi lagi kesalahpahaman antara guru, siswa, maupun orang tua murid.

Dengan rencana pencabutan laporan ini, Dini Fitria diharapkan bisa kembali menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah tanpa tekanan, sementara siswa yang terlibat pun dapat kembali fokus belajar.

Kasus SMAN 1 Cimarga kini menjadi simbol penting tentang penyelesaian konflik pendidikan dengan dialog, empati, dan semangat memperbaiki keadaan bersama.***