POJOKSATU.id - Jadi primadona wisata lebaran, ribuan warga yang berasal dari Banten maupun luar provinsi ramai berkunjung ke Masjid Agung Banten.

Selain untuk menikmati wisata sejarah dan keindahan arsitektur, Masjid Agung Banten di Banten Lama ini menjadi salah satu destinasi wisata religi di Hari Raya Idul Fitri.

Ribuan pengunjung juga datang untuk berziarah ke makam Sultan Maulana Hasanudin. Putra dari Wali Songo Sultan Gunung Jati Cirebon ini merupakan tokoh penyebar agama islam di Banten.

Berwisata ke Masjid Agung Banten di Banten Lama ini juga menjadi sarana pengenalan sejarah peninggalan kerajaan Islam di Banten.

Baca Juga: Tempat Wisata Religi di Pematang Siantar, Ada Patung Dewi Kwan In Tertinggi di Asia Tenggara

Di tempat ini masih bisa ditemui sisa-sisa reruntuhan Kesultanan Banten yang pernah berjaya pada masanya.

Masjid Agung Banten yang memiliki arsitektur unik lantaran dirancang dari perpaduan arsitek Jawa, Cina dan Eropa pada masa zaman dahulu. Didirikan pada kisaran tahun 1560-1570.

Meskipun telah berumur lebih dari 4 abad, Masjid Agung Banten, nampak masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik.

Seperti juga mesjid-mesjid lainnya, bangunan induk mesjid berdenah segi empat. Atapnya merupakan atap bersusun limas dengan bagian kiri dan kanannya terdapat masing-masing serambi.

Baca Juga: Wisata Religi ke Masjid Cheng Ho Palembang, Begini Makna Simbol Menara di Sana

Serambi ini dibangun pada waktu kemudian. Didalam serambi kiri, yang merupakan bagian utara dari mesjid, terdapat makam-makam dari beberapa sultan Banten dan keluarganya, diantaranya makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar.

Sedangkan di dalam serambi kanan, yang terletak di selatan, terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul ‘Abidin dan lain-lainnya.

Pada bagian tangga pada masdjid itu memiliki model menyerupai goa, yang menurut sejarah pembangunannya dilakukan atas bantuan seorang arsitektur asal Mongolia bernama Cek Ban Cut.

Pada sisi timur dari mesjid tersebut terdapat menara yang berdiri dengan ketinggian sekitar 30 meter dengan diameter bagian pangkalnya sekitar 10 meter.

Baca Juga: Masjid Lautze 2 Menjadi Pusat Log-In Keturunan Tionghoa di Kota Bandung

Menara ini dulunya selain sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan juga digunakan untuk memantau dan mengawasi perairan laut.

Konon menara ini dibangun semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucazoon Cardeel.

Pada waktu itu, Cardeel memang membelot ke pihak Banten, dan kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

Di bagian dalam menara tersebut terdapat sebuah tangga untuk menuju bagian atasnya.

Tangga tersebut melingkari menara pada bagian tepi dalamnya dengan lorong sempit yang hanya cukup dilewati oleh satu orang saja.

Baca Juga: Desa Wisata Religi Astana Gunung Jati Kabupaten Cirebon Masuk 75 ADWI 2023

Namun orang memiliki ukuran tubuh yang gemuk, bisa dipastikan tidak akan bisa melewatinya.

Dari bagian atas menara ini, kita dapat melihat pemandangan di sekitar mesjid termasuk lautan lepas dengan perahu-perahu nelayannya.

Jarak antara menara ini dengan pantai tidaklah jauh yakni kurang lebih 1,5 km, sehingga cukup jelas untuk memantau kesibukan di perairan laut Banten.

Bagian Selatan dari Mesjid Agung Banten terdapat bangunan yang bernama Tiyamah. Bentuknya berupa segi empat panjang dan bertingkat.

Bangunaan ini mempunyai langgam arsitektur Belanda kuno dan menurut sejarah didesain pula oleh Lucazoon Cardeel.

Baca Juga: Keunikan Vihara Dewi Kwan Im Palembang Berusia 291 Tahun, Ada Makam Ju Sin Kong Panglima Beragama Islam

Dahulu bangunan ini dipergunakan sebagai tempat musyawarah dan berdiskusi tentang soal-soal keagamaan.

Kesultanan Banten memang menempatkan Islam sebagai landasan kehidupan politik kerajaan. Dalam hal ini Islam menjadi alat legitimasi atas kekuasaan penguasa, serta menjadi simbol identitas.

Meskipun Islam mendominasi kehidupan politik dan kebudayaan di Kesultanan Banten, namun tidak menutup kemungkinanan agama lain menjalankan ritualnya disana.

Baca Juga: Libur Lebaran Hampir Tiba! Inilah Rekomendasi Tempat Wisata di Bandung yang Seru

Hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan kelenteng yang merupakan pusat peribadatan etnis cina pada masa tersebut.

Dengan kata lain, Mesjid Agung Banten memang sarat dengan nuansa keagamaan Islam yang telah dipadu dengan budaya Barat dan Cina pada arsitektur bangunannya.

Dengan adanya makam-makam kuno kesultanan Banten nampaknya semakin menjadikan mesjid ini ramai dikunjungi untuk wisata ziarah terutama di hari-hari libur maupun di hari-hari besar umat Islam lainnya.

Lokasi Masjid Agung Banten terletak di Jl. Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Banten, Indonesia termasuk mudah dicari.

Meski tidak ada tiket masuk, kita tetap perlu mempersiapkan keperluan yang mungkin dibutuhkan seperti membawa bekal, air minum dan lainnya. Jangan lupa juga membawa kamera karena pasti ingin mengabadikan momen dan pemandangan mengesankan bersama kelurga ataupun teman-teman.***