POJOKSATU.id - Setiap tanggal 4 Oktober, masyarakat Banten merayakan hari yang penuh makna. Tahun ini, Provinsi Banten resmi menapaki usia ke-25 sejak berdiri pada tahun 2000.
Namun di balik kemeriahan perayaan, ada sejarah panjang perjuangan rakyat Banten untuk mewujudkan daerah otonomi sendiri.
Banten dulunya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga: Ditagih Iuran, Sopir Angkot Bacok Bapak dan Anak
Namun, sejak lama masyarakat dan tokoh-tokoh lokal merasa bahwa Banten memiliki identitas, budaya, serta potensi ekonomi yang berbeda dan layak berdiri sendiri.
Aspirasi itu muncul kuat sejak era reformasi 1998, ketika semangat desentralisasi bergelora di berbagai daerah Indonesia.
Melalui perjuangan panjang, akhirnya pada 17 Oktober 2000, DPR RI mengesahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten.
Baca Juga: Strategi Sukses Lolos CPNS 2026, Simak Lengkap Kisi-Kisi, Jumlah Soal, dan Passing Grade Terbaru
Momentum ini menjadi tonggak bersejarah bagi masyarakat Banten, menandai lahirnya provinsi baru yang kini terus tumbuh dan berkembang.
Peresmian Provinsi Banten dilakukan langsung oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Istana Negara.
Sejak saat itu, Serang ditetapkan sebagai ibu kota provinsi, menggantikan posisi administratif sebelumnya yang masih bergantung pada Bandung, Jawa Barat.
Baca Juga: Dugaan Biang Kerok Air Kali di Serpong Berwarna Merah Dinas Lingkungan Tangsel Turun Tangan
Seiring berjalannya waktu, Banten menjelma menjadi salah satu daerah strategis di Pulau Jawa.
Letaknya yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta menjadikan provinsi ini sebagai kawasan penyangga ibu kota sekaligus pusat pertumbuhan industri dan pariwisata.
Di usia ke-25 ini, Banten tidak hanya dikenal dengan potensi ekonomi dan industrinya, tetapi juga dengan kekayaan budaya dan sejarahnya.
Dari Kesultanan Banten yang berpengaruh besar pada masa Islam Nusantara, hingga warisan budaya seperti Masjid Agung Banten, Keraton Kaibon, dan tradisi Debus yang mendunia.
Ketua DPRD Provinsi Banten sempat menyebut bahwa HUT ke-25 ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen refleksi untuk memperkuat komitmen membangun Banten yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.
Baca Juga: 5 Menu Sayur Sehat dan Lezat ala Resep Rumahan, Anak Dijamin Tak Lagi Pilih-Pilih Makanan
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Banten melalui berbagai kegiatan HUT seperti festival budaya, pesta rakyat, dan peluncuran layanan publik baru, ingin menunjukkan bahwa semangat perjuangan tahun 2000 masih hidup hingga kini.
“Semangat pemisahan dulu bukan karena ingin berpisah, tapi ingin mandiri dan berkembang lebih cepat,” ujar salah satu tokoh pejuang pembentukan Banten yang kini telah sepuh.
Kini, setelah dua dekade lebih berdiri, Banten terus berbenah.
Baca Juga: Kapolsek Purwasari Suapi Danramil Klari di Kebun Jagung, Rayakan HUT TNI ke-80
Dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, hingga digitalisasi pelayanan publik.
Semua diarahkan agar cita-cita awal pembentukan provinsi benar-benar terwujud.
Sejarah panjang berdirinya Banten menjadi pengingat bahwa kemajuan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan dan kerja keras bersama.
Baca Juga: Resep Rumahan Ayam Woku Khas Manado: Pedas, Gurih, dan Bikin Ketagihan
Di usia peraknya, Banten diharapkan terus bersinar sebagai provinsi yang berakar pada sejarah dan melangkah menuju masa depan yang gemilang.***


