POJOKSATU.id - Di tengah ancaman banjir yang terus berulang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Pandeglang justru mengaku hanya memiliki satu perahu karet bermesin, dan kondisinya pun sudah nyaris tak layak operasi.

Sekretaris BPBDPK, Nana Mulyana, tak menutupi fakta pahit tersebut. Ia menyebut perahu satu-satunya itu sudah tua dan rawan bermasalah saat digunakan untuk mengevakuasi warga.

“Kita baru punya satu unit, dan itu pun sudah uzur,” ujarnya.

Baca Juga: Sudahkah Terlaksana? Pemda Jawa Barat Asuransikan Sejuta Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan Mulai November 2025

Lebih miris lagi, perahu ideal untuk wilayah banjir yang harganya sekitar Rp120 juta per unit belum bisa dibeli karena terkendala anggaran.

Padahal, kebutuhan alat evakuasi mendesak, mengingat beberapa wilayah Pandeglang kerap terendam saat hujan deras.

BPBDPK memang memiliki tiga perahu dayung jenis boogie, namun tentu saja kemampuan dan jangkauannya sangat terbatas.

Baca Juga: Rahasia di Balik Julukan Banten sebagai Tanah Jawara

Sementara itu, perahu bermesin yang tersedia justru tidak efektif untuk menyusuri kawasan permukiman yang tergenang.

Kekurangan sarana juga bukan cuma perahu. Nana mengakui bahwa peralatan keselamatan lainnya pun masih minim, termasuk tali evakuasi dan perangkat pendukung penyelamatan di daerah berbukit.

Meski sudah mengajukan tambahan perahu lewat perubahan APBD, belum ada kepastian kapan pengadaan itu bisa terealisasi.

Baca Juga: Mengungkap Tiga Raja Besar Banten: Jejak Kejayaan Islam di Tanah Jawara

Situasi ini jelas membuat warga was-was apalagi setiap musim hujan, banjir seolah menjadi tamu tahunan yang tak pernah absen.

BPBDPK berharap penambahan peralatan segera diputuskan agar proses evakuasi tak lagi terhambat.

Namun selama belum ada perahu tambahan, Pandeglang harus bertahan dengan “armada seadanya” yang sewaktu-waktu bisa mati total di tengah misi penyelamatan.***