POJOKSATU.id - Bangunan megah Balai Desa Sukarendah di Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, kini nasibnya mengenaskan.

Dulu dibangun dengan harapan jadi pusat kegiatan warga, sekarang malah jadi “pajangan” berdebu dan tak terawat.

Warga setempat mengeluhkan kondisi bangunan yang terbengkalai sejak selesai dibangun pada 2023.

Baca Juga: Kemendikdasmen Rilis Jadwal Resmi UKPPPG Tahap 4 2025: Peserta PPG Tahap 3 dan Retaker Diminta Siaga

“Cuma dipakai sekali buat rapat, abis itu kosong lagi. Sayang banget, udah bagus tapi nggak pernah dipakai,” ujar Heriati, salah satu warga dengan nada kecewa.

Pantauan di lapangan, cat dinding mulai mengelupas, pintu berkarat, bahkan beberapa bagian bangunan tampak kotor karena tak pernah dibersihkan.

Rumput liar tumbuh di sekitar halaman, menambah kesan angker pada gedung yang seharusnya jadi tempat warga berkumpul.

Baca Juga: Panduan Lengkap Daftar UKPPPG Tahap 3 di Ruang GTK 2025, dari Login sampai Konfirmasi Ujian

Padahal, fungsi balai desa sangat vital.

Mulai dari tempat rapat warga, pembagian BLT, kegiatan posyandu, sampai musyawarah kampung.

Tapi sejak gedung berdiri, warga tetap harus bolak-balik ke kantor desa untuk urusan apa pun.

Baca Juga: Panduan Lengkap Daftar UKPPPG Tahap 3 di Ruang GTK 2025, dari Login sampai Konfirmasi Ujian

Sekretaris Desa Sukarendah, Suantra, tidak menampik kalau bangunan itu jarang dipakai.

Ia menjelaskan bahwa gedung tersebut kini diserahkan kepada pihak Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB).

“Kuncinya sekarang di mereka. Nanti kita evaluasi lagi kalau ada laporan soal perawatan,” katanya.

Namun warga menilai alasan itu tak cukup.

Menurut mereka, jika tak segera difungsikan, bangunan yang menghabiskan dana besar dari anggaran pemerintah itu hanya akan jadi contoh nyata proyek tanpa manfaat.

Baca Juga: Panduan Lengkap Daftar UKPPPG Tahap 3 di Ruang GTK 2025, dari Login sampai Konfirmasi Ujian

“Kalau begini caranya, buat apa dibangun? Lebih baik uangnya dipakai buat perbaikan jalan atau fasilitas yang benar-benar dibutuhkan warga,” kata warga lain yang enggan disebut namanya.

Kini, masyarakat Sukarendah berharap pemerintah desa dan pihak provinsi tidak menutup mata.

Gedung yang dibangun dari uang rakyat semestinya bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat juga, bukan hanya jadi monumen pemborosan.

Baca Juga: Ekonomi Digital Indonesia Tembus 2 Ribu Triliun di 2025, Siapa yang Siap jadi Pemenang?

“Kami cuma pengin gedung itu hidup lagi. Jangan cuma jadi tempat debu numpang tidur,” tutup Heriati lirih.***