POJOKSATU.id, Kota Bandung - Beberapa kali warga kota Bandung ditemukan nekat ingin melakukan percobaan bunuh diri di flyover Pasupati.
Menanggapi hal itu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa fenomena itu tidak boleh diabaikan dan mengkhawatirkan.
"Jadi memang fenomena bunuh diri di Kota Bandung ini menunjukkan bahwa tingkat stres dan depresi di warga Kota Bandung sudah tidak bisa diabaikan lagi," kata Farhan kepada wartawan, di Pendopo, Senin malam 9 Febuari 2026.
Lanjut dia, terbukti hampir setiap minggu selalu ada saja orang yang berusaha bunuh diri di Bandung, khususnya di Jembatan Pasupati.
"Ini sangat mengkhawatirkan. Itulah sebabnya Forkopimcam Bandung Wetan melakukan patroli setiap hari. Namun patroli tentu ada kemungkinan meleset. Kalau patroli meleset dan ternyata ada yang terjun, itu sangat berbahaya. Maka yang kami lakukan sebenarnya adalah mengkurasi sejak mereka masih anak-anak di sekolah," tegasnya.
Kata dia, survei membuktikan bahwa ada sekitar 75 ribu anak sekolah dari tingkat SD sampai SMA di Kota Bandung, dari berbagai level mengalami stres, dari ringan hingga depresi berat.
Dan bunuh diri biasanya terjadi ketika seseorang sudah masuk ke tahap depresi berat dalam jangka waktu lama.
Biasanya mereka sudah mengalami depresi selama dua tahun terakhir, bahkan depresi yang sangat kuat.
"Jadi bunuh diri itu hampir tidak pernah terjadi secara spontan. Artinya, yang harus kita lakukan adalah bagaimana penanganannya sejak awal. Masalah gangguan kejiwaan di warga Kota Bandung harus kita tangani bersama-sama," ucapnya.
Saat ini orang nomor satu di Bandung ini sedang menunggu program dari Kementerian Kesehatan yang akan menempatkan psikolog klinis untuk praktik di puskesmas.
Sehingga nanti di puskesmas akan ada layanan psikologis.
Pada saat bersamaan, para psikolog tersebut juga akan melatih guru BK agar memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi murid-murid yang mengalami gangguan psikologis.
Selain itu pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat, sebagai pemilik jembatan tersebut untuk memungkinkan memasang CCTV, sembari secara teknis akan mengkaji apakah memungkinkan untuk meninggikan tembok pengamannya.
"Namun saya juga khawatir, kalau pengaman ditinggikan, tetap saja bisa dipanjat. Jadi memang harus dipikirkan matang-matang. Misalnya memasang jaring di bawahnya juga tidak semudah itu, karena jaring harus kuat menahan orang. Selain itu, bisa saja orang tersebut sudah membentur badan jembatan sebelum sampai ke jaring. Jadi memang banyak aspek teknis yang harus dipertimbangkan," paparnya.
Untuk CCTV, sendiri Farhan berharap ada sistemnya sehingga tidak hanya berfungsi merekam kejadian saja. Dan itu tengah didiskusikan dengan pihak Polrestabes yang memiliki satuan psikolog.
"Kami perlu berdiskusi bagaimana caranya agar Jembatan Pasupati tidak dikenal sebagai tempat orang melakukan bunuh diri. Kita memiliki sekitar 80 puskesmas. Mungkin tidak semuanya langsung memiliki layanan tersebut. Kita akan mulai dari beberapa dulu. Nanti saya cek lagi dengan Dinas Kesehatan," tuturnya.
Intervensi sampai ke tingkat paling kecil seperti RT/RW kata Farhan saat ini belum dilakukan karena kekurangan sumber daya manusia.
Untuk kewilayahan saat ini baru sampai tingkat kelurahan atau puskesmas.



