POJOKSATU.id, Kota Bandung – Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta, mengatakan Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memainkan peran lebih besar dalam percaturan global.
Ia juga melihat hubungan Indonesia dengan dunia Islam sebagai salah satu potensi yang perlu diperkuat.
Baca Juga: Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Kena Serangan Jantung, Tak Ada Unsur Pidana
“Di sini ada peran yang tersisa bagi kita. Tantangannya adalah karena secara geografis kita diuntungkan. Indonesia harus mampu menavigasi turbulensi dunia agar tetap bertumbuh,” Anis usai memberikan Kuliah Umum tentang Wawasan Geopolitik dan Kebangsaan di Lingkungan Pendidikan Pasundan di Aula Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera 41 Bandung, Rabu (30/9/2026).
Karena itu, Anis Matta mendorong lembaga pendidikan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perubahan dunia.
Ia menilai pendidikan harus mampu membentuk sumber daya manusia yang memahami teknologi, sosial, ekonomi, politik, dan perkembangan global.
Baca Juga: Mendikdasmen Dorong Penguatan Pendidikan Pancasila, Pramuka hingga Kebiasaan Hidup Bersih
“Paguyuban harus menciptakan otak politik dan ekonomi untuk masa yang akan datang,” tegasnya seraya mengapresiasi konsistensi Paguyuban Pasundan dalam mengembangkan pendidikan.
Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis karena persaingan dunia saat ini juga berlangsung melalui perang kognitif.
“Kita hidup di era di mana inti dari semua pergerakan geopolitik pada dasarnya adalah perang kognitif, perang otak. Siapa yang bisa survive di sini ditentukan oleh orang-orang yang berpikir lebih canggih daripada lainnya,” ujar Anis Matta.
Baca Juga: Makan Gratis di Warung Ojol, Bentuk Kepedulian Polresta Karawang
Ia berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan mampu melahirkan generasi yang memiliki kapasitas intelektual dan mampu membaca arah perubahan dunia.
“Karena itu, kita berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan yang dikomandani oleh Prof. Didi Turmudzi insyaallah bisa melahirkan otak-otak terbaik di Indonesia yang bisa menavigasi Indonesia melalui turbulensi geopolitik yang sangat kompleks,” tuturnya.
Anis Matta juga menyampaikan perkembangan diplomasi Indonesia dalam menghadapi dinamika global, termasuk isu Palestina dan perubahan hubungan antarnegara.
Ia mengatakan Indonesia perlu terus memperkuat kapasitas diplomasi dan memahami perubahan konfigurasi kekuatan dunia.
Selain itu Anis mengajak lingkungan pendidikan memperkuat wawasan geopolitik dan kebangsaan di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks.
Dalam paparannya, Anis menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai fondasi untuk membangun masyarakat dan peradaban.
Baca Juga: Hugo Mengaku Tak Melihat Harvey Moeis dan Jimmy Masrin di Lapas Cibinong, Ketemu Ferdy Sambo
Pasalnya, sejarah menunjukkan bahwa ilmu memiliki peran penting dalam membentuk kekuatan sebuah bangsa.
“Ilmu meningkatkan derajat, bahkan mengubah negara dan masyarakat. Rasulullah menjadi pemimpin dengan peradaban dunia. Karena itu, ayat pertama yang turun adalah Iqra, ilmu,” ujar Anis
Anis juga mengajak masyarakat, memahami geopolitik karena perkembangan politik global ikut memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Menurutnya tidak mungkin kebijakan ekonomi, politik, dan sosial satu negara berjalan tanpa melihat kondisi lingkungan strategis geopolitik.
Karena itu, menurutnya kita harus melihat geopolitik karena geopolitik memengaruhi kehidupan sehari-hari, perkembangan dunia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan besar dalam persaingan antarnegara.
Saat ini perang modern tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer. Menurutnya, persaingan global juga melibatkan ekonomi, politik, geografi, intelijen, budaya, hingga media.
Baca Juga: PermataBank Ungkap Cara Menjaga Kekayaan di Tengah Ekonomi yang Terus Berubah
“Perang sekarang bersifat hibrida. Ada politiknya, ada ekonominya, ada sisi geografisnya, ada intelijennya, ada budayanya, dan ada medianya. Semua aspek terlibat dalam pertempuran,” ungkapnya.
Ia menilai perubahan keseimbangan kekuatan global ikut mendorong munculnya berbagai konflik dan ketegangan di sejumlah kawasan.
Anis Matta juga menyoroti perubahan peta kekuatan dunia setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Menurutnya, perubahan tersebut membawa dunia memasuki tatanan baru yang kemudian berkembang menjadi persaingan kekuatan global.
Baca Juga: Komjen Rudi Simpulkan Penyalahgunaan Wewenang di Lapas Cibinong, Siapkan Sanksi Bagi Pegawai
Dalam konteks tersebut, ia menyinggung perkembangan China sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia dan meningkatnya persaingan strategis dengan Amerika Serikat.
“Semua sedang mengalami strategic adjustment. Karena itu, kita harus memahami apa yang sedang terjadi agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton,” katanya.
Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si menyampaikan kuliah umum disampaikan Anis memberikan gambaran mengenai perubahan politik global dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Baca Juga: 100 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Resmi Diserahkan di Purwakarta
“Kehormatan bagi kami karena mau datang ke Paguyuban Pasundan. Kita ingin ada gambaran perjuangan umat Islam terutama di era perubahan politik global,” kata Didi Turmudzi.
Didi mengatakan Paguyuban Pasundan memiliki misi menjaga dan memelihara syiar Islam melalui lingkungan pendidikan.
Ia menjelaskan, nilai-nilai keislaman juga masuk dalam aktivitas pendidikan di lingkungan Pasundan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Baca Juga: Wawalkot Bandung Erwin Ajak Mahasiswa Turun ke Masyarakat Edukasi HIV dan Cegah Pergaulan Berisiko
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan akademik. Guru dan dosen juga memiliki tanggung jawab membangun karakter dan moral generasi muda.
“Di tengah kebangkrutan moral, pranata pendidikan dan agama sangat penting. Salah satunya melalui tugas guru dan dosen,” ujarnya.
Didi juga mengajak seluruh lingkungan pendidikan Pasundan melakukan refleksi terhadap kondisi umat dan bangsa.
Baca Juga: Jadi Saksi Perkara PT BDS, Bupati Dadang Supriatna Tegaskan Batas Kewenangannya
Ia menilai perubahan zaman menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan kesiapan intelektual, moral, dan spiritual.
“Pertanyaannya, di mana umat Islam berada? Bukan karena Islam hilang. Islam tetap ada, tetap diucapkan dan diwariskan. Namun, masalah kita jauh lebih dalam. Kita belum mendalami dan menjalankannya,” kata Didi.
Menurutnya, tantangan zaman menuntut lembaga pendidikan untuk terus melakukan pembaruan.
Baca Juga: Honda Daya Jayadi Racing Team Tuntaskan Perjuangan di Seri Pamungkas Kejurnas Motoprix 2026
“Perubahan menuntut zaman baru. Tantangan semakin berat. Kita harus mampu menghadapi realitas baru, intervensi budaya, ekonomi, dan berbagai perubahan dunia,” tuturnya.***



