POJOKSATU.id, Kota Bandung
- Senin 11 Mei 2026 ini, Wali Kota Bandung melepas petugas pemeriksa hewan kurban baik anti mortem (sebelum sembelih) maupun post mortem (setelah sembelih) di Balai Kota.

"Alhamdulillah hari ini sudah melepas petugas anti mortem dan post mortem untuk penanganan hewan kurban, hari ini sudah resmi kita sudah mengawasi semua tempat penjualan dan penyembelihan hewan kurban, memastikan hewan kurban kita sehat dan hewan kurban kita layak untuk dikurbankan," jelas Wali Kota Bandung Muhammad Farhan usai resmi melepas petugas.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Gin Gin Ginanjar mengatakan petugas ada 184 orang untuk anti mortem tapi untuk post mortem biasanya lebih banyak, karena memotong hewan dibutuhkan lebih banyak petugas terlebih di jam bersamaan.

"Ini akan bergerak mulai hari ini sampai nanti hari terakhir tasrik. Full jadi setiap hari akan menyisir setiap penjual yang datang termasuk menerima laporan memastikan sehat dan layak untuk dikurbankan salah satu metode nya dengan aplikasi e-selamat, karena bisa mengecek langsung melihat bahwa hewan tersebut memang layak dan lainnya," jelasnya.

Terkait pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK) sendiri kata Gin Gin sudaha jauh hari dilakukan.

Bahkan pihaknya sudah mengedukasi, memeriksa, dan memberikan perawatan kesehatan kepada para peternak yang ada di kota Bandung.

"Para peternak sudah paham, dan PMK ini sudah dua tahun lalu terjadi, tapi mudah mudahan semua terkendali dan ini juga menjadi salah satu cara agar setiap hewan yang datang ke kota Bandung harus di vaksin PMK lalu dibuktikan dengan surat keterangan sehat hewan. Kita menyisir ke 30 kecamatan dan 151 kelurahan," jelasnya.

Gin Gin pun menyampaikan tahun lalu, pemotongan hewan kurban mencapai angka 18.640 ekor, saat ini pihaknya menyiapkan kalung sehat untuk sebanyak 25.000 ekor.

Farhan pun menambahkan bahwa saat ini belum terlihat apakah lebih banyak domba, kambing atau sapi, kambing.

Namun jumlah itu dibutuhkan guna
dilaporkan ke BPS sebagai salah satu bentuk indikator sekunder tentang kondisi perekonomian di kota Bandung.

"Hewan tidak layak dikembalikan ke peternak masing-masing dan tidak boleh dijual. Kita tentu akan memastikan ketertibannya dengan kewilayahan, yang pasti jangan sampai menggunakan trotoar, sudah ada pasti arahan di kewilayahan, kita tidak mau seakan akan memanjang hewan sedemikian rupa sehingga tidak manusiawi," jelasnya.

Terkait pembungkus hewan kurban sendiri kata Farhan saat ini pilihannya hanya menggunakan plastik kendati harganya saat ini sedang naik.

"Nah ini saya belum bicara sama teman teman secara detail seperti itu tapi pasti butuh plastik bagaimanapun juga belum ada pengganti plastik yang lain, yang lain gak efektif, mau gak mau harus pake plastik, gak ada pilihan lain," imbuhnya.