POJOKSATU.id, Kota Bandung - Hibah bantuan Provinsi Jawa Barat berupa alat pengelolaan sampah yang diberikan sebanyak 151 kelurahan baru 1 kelurahan yang berjalan yakni di kelurahan Padasuka.

Itu pun kata Wali Kota Bandung Muhammad Farhan belum dievaluasi karena baru sekitar dua minggu beroperasi.

"Iya sekarang juga sedang dicoba. Salah satu TPS, di Kelurahan Padasuka ada satu alat pengelolaan sampah mengubah sampah organik menjadi briket. Nah, briketnya ini nanti akan kita jual ke pabrik-pabrik tahu. Ya itu bantuan dari provinsi, satu kita coba, kapasitas sekitar 3 ton per hari. Kalau bisa 3 ton per hari itu, di Padasuka kita akan kembangkan di kelurahan-kelurahan lain," papar Farhan.

Baca Juga: Aneh tapi Gak Bikin Kaget Mahfud MD Sentil DPR RI, Ada RUU Semalam Disahkan tapi RUU Perampasan Aset 11 Tahun Belum Disahkan

Farhan menegaskan uji coba baru di satu kelurahan. Pasalnya mesin harus di uji coba dulu dari berbagai aspek.

"Baru satu yang dicoba. Kita kan gini, mesin sampah itu tidak seperti kita beli alat elektronik, datang ke rumah, colok, langsung hidup. Henteu. Karena ini adalah sebuah mesin industri, sekecil apa pun, cobaan heula, pasang dulu, konstruksinya benar apa enggak, pengelolaan polusi udaranya sudah baik apa enggak. Nu matak itu masih dalam tahap percobaan , kapasitas full-nya 3 ton," bebernya.

Farhan juga membenarkan provinsi memberikan 20 mesin dahulu namun yang beroperasi baru satu sebagai uji coba.

Baca Juga: DPR Emang Keren, RUU Perampasan Aset 11 Tahun dan 5 Kali Diajukan dan Sempat Dihilangkan

Kendati evaluasi belum keluar namun kata Farhan hasilnya masih belum konsisten maka akan ditingkatkan terus konsistensinya.

"Saya datang ke sana terakhir bersamaan dengan Kepala Bappeda Jawa Barat, yang namanya Pak Dedi Mulyadi juga," ucapnya.

Dan Farhan yakin teknologi ini optimis dilanjutkan hanya saja memang Pemkot harus membicarakan masalah apakah konsumsi listriknya efisien.

Baca Juga: Honda Daya Jayadi Racing Team Siap Berlaga di Ajang Motoprix Subang 2026

"Kan kadang-kadang kita suka lupa ngitung itu ya. Berapa banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, berapa besar kalau misalkan kita mau jual jasa pengelolaan sampah itu kepada masyarakat, masyarakat itu mesti bayarnya berapa, ataukah bisa nanti ditanggung, disubsidi oleh pemerintah atau enggak. Itu masih kita hitung, jadi masih eksperimen sekarang," bebernya.

Namun pihaknya menargetkan bulan Oktober sudah ketahuan hasilnya. Bila ternyata efisien bisa dilaksanakan langsung duplikasi di 20 kelurahan. Baru bertambah secara bertahap sampai 151.

Pada kesempatan itu Farhan pun menyampaikan teknologi mesin hibab pemprov ini berbeda dengan teknologi Danantara yang mampu mengolah sampah sekaligus 300 ton di satu wilayah.

Baca Juga: Halte Palmerah Kembali Dibuka, Transjakarta Mulai Beroperasi Normal Hari Ini

"Jadi sekarang itu yang paling penting penyiapan lahan dulu yang harus diurug sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan konstruksi dari Danantara. Ini masih berupa gambar semuanya. Dari gambar itu kita akan dapat gambaran tentang seberapa banyak sampah yang dibutuhkan, organik atau non-organik. Apakah di situ boleh juga ada tempat pemilahan. Karena kalau memang jadi tempat pemilahan juga, sekalian kita akan jadikan pemilahan untuk sampah yang bisa diangkut ke Legok Nangka." ucapnya lagi.

Pertanyaannya kata Farhan sampah seperti apa yang dibutuhkan, seberapa banyak per hari yang dikirim di sana.

"Kalau sudah ketahuan, kita akan tahu jalur pengangkutannya datang dari mana saja. Nah, itu sebabnya kami sedang menyiapkan sebuah proposal kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk bisa membantu kami menyediakan kendaraan khusus pengangkutan sampah, sehingga tidak mengganggu masyarakat yang akan dilewati di seputaran Cisaranten sampai ke Cinambo, sampai ke Rancanumpang dan sampai ke Gedebage," tutupnya.***