POJOKSATU.ID – Kontraktor utama China Gezhouba Group Company Ltd, Daelim E&C Company Ltd, PT (Persero) Wijaya Karya (CGGC - DL E&C - WIKA Joint Venture) menyelenggarakan pelatihan pencegahan kekerasan berbasis gender dan kekerasan terhadap anak di lingkungan proyek PLTA Upper Cisokan Pumped Storage.

Kegiatan ini salah satu bentuk nyata dari komitmen Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT) terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Baca Juga: Cek, Daftar 146 Guru Lolos Seleksi Administrasi Pelatihan Teknis Bimbingan Konseling 2025, Bakal Dapat Bimbingan dari Monash University

Pelatihan ini diikuti oleh 118 peserta yang terdiri dari pekerja proyek, baik lokal maupun non-lokal dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya lingkungan kerja yang aman, adil dan bebas diskriminasi.

Bekerja sama dengan Sapa Institute, lembaga independen yang fokus pada isu perlindungan perempuan dan anak serta penguatan kapasitas masyarakat dalam pencegahan kekerasan.

General Manager UIP JBT, Widya Anggoro Putro menekankan pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak hanya dalam pembangunan secara fisik, tetapi juga dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Baca Juga: KABAR Buruk Bagi Guru! TPG Tahun 2026 Terancam Gagal Bayar? Mendikdasmen Abdul Mu'ti Beberkan Faktanya!

"Kami tidak ingin proyek ini hanya sukses secara teknis, tetapi juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. UIP JBT memastikan seluruh mitra kerja, termasuk kontraktor turut mengambil peran dalam membangun budaya kerja yang melindungi semua pihak, termasuk perempuan dan anak," ujar Anggoro.

Hal senada disampaikan oleh Manager Unit Pelaksana Proyek Jawa Bagian Tengah 1, Nugroho Budi Sulaksono yang menyatakan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari upaya sistematis untuk membentuk lingkungan kerja yang sehat dan berkeadilan.

"Kami mengawal langsung pelaksanaan pelatihan ini agar para pekerja memahami hak-hak mereka serta tahu bagaimana mencegah dan melaporkan potensi kekerasan di sekitar mereka. Ini adalah investasi sosial jangka panjang," kata Budi.

Baca Juga: Ditjen Dikti Buka Pendaftaran Beasiswa Kemitraan Indonesia 2025 untuk Dosen Perguruan Tinggi, Cek Syarat Lengkap serta Komponen Pembiayaan

Materi pelatihan yang diberikan meliputi pemahaman bentuk-bentuk kekerasan, peran pekerja dalam pencegahan, serta mekanisme pelaporan yang telah diatur.

Sri Mulyati, perwakilan dari Sapa Institute, mengapresiasi keterlibatan aktif UIP JBT dan CGGC dalam mendorong kesadaran sosial di sektor konstruksi. Dirinya mengungkapkan pentingnya ruang dialog di antara para pegawai agar tercipta suasana kerja yang kondusif.

Baca Juga: Daftar Nama Menteri, Wamen, KSP dan Kepala Badan yang Dilantik Presiden di Istana, Ada Eks Wakapolri

"Kesadaran terhadap isu kekerasan berbasis gender dan anak masih minim di sektor konstruksi. Dengan pelatihan ini, kami membuka ruang dialog yang penting agar seluruh pekerja, tanpa terkecuali, merasa aman dan dihargai," ungkap Sri.

Tak hanya dari sisi penyelenggara, para pekerja yang mengikuti pelatihan juga merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. Salah satu peserta, Fikri Sihab, seorang pekerja lokal asal Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, menyampaikan pandangannya.

Baca Juga: Djamari Chaniago dan Erick Thohir Resmi Dilantik Menko Polkam Baru dan Menpora,  KSP Dijabat Qodari

"Alhamdulillah ini banyak manfaatnya bagi kami dari pekerja yang belum paham bagaimana memahami kekerasan, pemaksaan dan kekerasan secara berbasis gender. Ini bermanfaat untuk keluarga kita di rumah, bapak-bapak yang belum paham terkait kekerasan berbasis gender terhadap istri dan lain sebagainya. Mudah mudahan agenda seperti ini akan ada kembali untuk pegawai-pegawai baru selanjutnya," kata Fikri.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

UIP JBT berharap melalui terselenggaranya pelatihan ini, semua pihak yang terlibat dalam proyek PLTA Upper Cisokan dapat berkontribusi menciptakan lingkungan kerja yang aman, setara, dan bebas dari kekerasan dalam bentuk apa pun. ***