POJOKSATU.id, Kota Bandung - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan dalam dua hari ini berkurangnya stok daging sapi.
Hal itu karena pedagang di pasar tradisional tidak mau harga sapi yang sudah disembelih atau kaskus terlalu tinggi.
"Sekarang sedang tidak sebanyak biasanya, karena ada harga sapi yang sudah disembelih kaskus yang terlalu tinggi dari rumah potong hewan. RPH sendiri terpaksa karena dari pengusaha yang menggemukan sapi juga harga naik," jelas Farhan di balai kota.
Penyebab harga naik kata dia, karena bibit sapi impor dari Australia, India, New Zealand, dan Selandia Baru harganya naik demikian juga dengan sebagian pakan ternak.
Sehingga akibat berantai menyebabkan pedagang merasa terlalu berat untuk menjual dengan harga yang diminta oleh para pesuplai daging di Kota Bandung.
"Daging segar di kota Bandung ini kita akui hanya dua persen yang berasal dari pasar lokal terutama dari Nusa Tenggara Timur dan dari Jawa Timur demikian juga para pengusaha penggemukan sapi sekarang ini fokus memastikan agar semua sapi untuk kurban itu tersedia dengan baik, ini juga bukan hal mudah," ujarnya.
Farhan juga ingin memastikan masyarakat yang akan membeli untuk kurban tersedia dengan baik.
Karena hal ini kata dia, merupakan satu mekanisme pasar yang memang harus dijaga kendati fluktuasi pasar itu adalah wajar.
Tapi pemerintah lanjutnya tidak diam dan lakukan pendekatan ke importirnya, pengusaha penggemukan, pengusaha pemotongan sapi, dan pedagang pasar tradisional.
"Cover ini semua melalui jalur lain, yaitu impor daging yang akan dibuka untuk penuhi kebutuhan melalui pasar modern. Sehingga kebutuhan pasar terpenuhi tinggal selera masyarakat," ungkapnya.
Sektor kuliner terganggu
Akibat harga daging sapi naik Farhan mengaku yang paling terpengaruh adalah sektor kuliner.
"Pengaruhnya signifikan karena kenaikan dollar terhadap rupiah berdampak juga pada suplai daging, kedelai dan gandum.
Nah problem nya adalah suplai daging pengaruhi kualitas baso, suplai gandum mempengaruhi mie dan rot. Apalagi sekarang kita sedang dorong kuliner roti yang lagi meledak dimana-mana di kota Bandung," bebernya.
Farhan pun menyampaikan akibat melemahnya dolar harga dan ketersediaan tahu dan tempe yang merupakan konsumsi sehari-hari bagi warga pun akan berdampak.
Pasalnya kedelai yang ada saat ini semua impor.
"Jadi ini kita perhatikan terus, kita memastikan suplai dan harga di batas ambang yang wajar," jelasnya.
Akan kah berpengaruh pada daya beli masyarakat, Farhan mengaku sedang berusaha menekan agar distribusi lancar sehingga inflasi tidak tinggi.
"Ketika inflasi meledak daya beli menurun dan ini berusaha kita lakukan supaya tidak terjadi," tegasnya.
Sedangkan himbauan pedagang sapi agar tanggal 18-19 Mei ini tidak berjualan dibenarkannya.
Namun kata Farhan Pemkot tetap menghimbau pedagang berjualan dengan stok yang ada.
"Ancaman tidak ada hanya menghimbau tidak. Yang terima diminta bergabung dengan Asosiasi Pedagang Daging Nusantara untuk tidak berjualan di tanggal 18-19 Mei. tapi kami himbauan kontra agar berjualan saja dengan stok yang ada jangan sampai pasar nol karena kita khawatir masyarakat panik. Padahal tidak perlu panik karena daging ada, hanya mungkin pelanggan bisa bergeser ke pasar modern yang menyediakan suplai daging beku," tutupnya.



