POJOKSATU.ID BANDUNG – Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar kuliah umum bertema “Singularitas, Hype atau Realitas dan Strategi untuk Indonesia” di Aula Timur ITB.

Acara ini bertujuan untuk membahas peran dan tantangan kecerdasan buatan (AI) dalam konteks sosial, ekonomi, dan bisnis Indonesia, sekaligus membedah isu singularitas teknologi dari sisi teori dan implementasi strategis.

Kuliah umum ini menghadirkan berbagai pembicara terkemuka dari kalangan akademisi, praktisi, dan pakar teknologi.

Dekan STEI ITB, Prof. Tutun Juhana, membuka acara dengan menekankan pentingnya AI sebagai salah satu kemajuan teknologi paling signifikan yang dapat membawa dampak besar bagi masyarakat global, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Pemilik Ria Beauty DIGEREBEK Polisi di Hotel Saat Layani Tujuh Pasien, Alat Tidak Memiliki IZIN EDAR, Produk Tidak Terdaftar di BPOM

“AI adalah salah satu pencapaian terbesar dalam sains dan teknologi. Namun, ia juga membawa berbagai risiko seperti halusinasi, inakurasi, pembobolan data privat, hingga akuntabilitas yang tidak jelas. Oleh karena itu, STEI ITB berkomitmen mendukung riset AI secara maksimal untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, sembari meminimalkan risikonya,” ujar Prof. Tutun.

Prof. Tutun Juhana mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi demi menciptakan AI yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan.

“AI adalah alat yang harus dikembangkan dengan pendekatan saintifik sekaligus pragmatis. Narasi AI khas Indonesia perlu diformulasikan bersama, agar teknologi ini benar-benar menjadi solusi bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Strategi Implementasi AI untuk Indonesia

Baca Juga: Bikin Nex Carlos Geleng-geleng Saking Enaknya, Sego Cumi Dapur Si Mpok di Bekasi Ini Punya Menu Antimainstream, Cobain Langsung Deh!

Dalam sesi pertama, Direktur Digital & IT BRI, Arga M. Nugraha memaparka, presentasi bertajuk “Strategi Implementasi AI di BUMN Indonesia dan Membangun Strategi AI yang Efektif untuk Pengembangan Bisnis”. Ia mengingatkan agar perusahaan di Indonesia tidak terjebak dalam euforia AI.

“Banyak organisasi memandang AI sebagai solusi segalanya, bahkan untuk masalah yang dapat diselesaikan dengan pendekatan berbasis aturan (rule-based). Padahal, strategi utama adalah fokus pada masalah spesifik yang berdampak signifikan pada bisnis,” jelas Arga.

Menurutnya, AI harus dimanfaatkan dengan pendekatan yang terarah, yaitu menyusun visi yang jelas dan mengukur dampak nyata pengembangannya terhadap bisnis.

Dengan cara ini, Indonesia dapat memaksimalkan manfaat AI sembari meminimalkan risiko dan biaya yang tidak perlu.

Baca Juga: Dua Status Medsos Terbaru Pramono Anung Usai Menang Pilkada Jakarta 2024, Bangun Jam 4

Paradigma minMAX AI

Dosen STEI ITB, Dimitri Mahayana memperkenalkan konsep paradigma minMAX AI, sebuah pendekatan filsafat sains untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan nilai AI bagi Indonesia. Paradigma ini terdiri dari enam elemen utama:

1. Manfaat: AI harus memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kehidupan.

2. Indonesia: Pengembangan AI harus memihak kepentingan nasional dan tidak hanya mengikuti hegemoni global.

3. Narasi: Membangun narasi positif dan relevan, seperti konsep Akal Inspiratif Indonesia (AII), AI yang manusiawi, berkeadilan, dan memihak wong cilik.

4. Mengukur: Menyusun ukuran evaluasi AI yang sesuai dengan kebutuhan nasional melalui kolaborasi lintas sektor.

5. Aman: Menangani isu-isu keamanan data, bias, transparansi, dan fairness.

6. X: Mengakui bahwa masa depan AI adalah variabel yang terus berubah dan belum sepenuhnya diketahui.

Baca Juga: Jelang Perayaan Natal, Ribuan Personel Keamanan Disiapkan Guna Menjamin Kamtibmas

“Indonesia perlu adaptif terhadap perubahan AI sembari berpikir kritis agar teknologi ini tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan alat yang membawa manfaat nyata,” ujar Dimitri.

Sebagai informasi, acara ini dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, profesional, dan masyarakat umum. Diskusi yang berlangsung dinilai produktif dalam mengintegrasikan perspektif akademisi, praktisi, dan masyarakat.

STEI ITB berharap acara ini menjadi langkah awal untuk membangun paradigma pengembangan AI yang relevan dan progresif bagi Indonesia.***