POJOKSATU.id, Kota Bandung - Tokoh pendaki dan pelopor panjat tebing Indonesia asal Bandung Mamay S.Salim yang berhasil menaklukkan gunung Eiger di Swiss pada tahun 1985 mengaku cukup resah dengan para pendaki gunung saat ini, pasalnya mereka banyak melakukan pendakian tanpa menguasai kondisi gunung yang akan di dakinya.
"Cukup resah ya, kalau ada kejadian terus dilarang bukan sadar malah pindah ke gunung lain," ujarnya pada konferensi pers 1 Day Trip Eiger bertajuk Media Field Journal, Kamis 9 Juli 2026.
Selain itu, para pendaki saat ini kata Mamay sulit di edukasi karena gaya hidup atau ikut mendaki hanya karena trend tanpa mengetahui seluk beluk pendakian.
Baca Juga: Pesan Penting Mensos untuk Kepala Sekolah Rakyat: Perkuat Manajemen dan Jaga Kebersihan Anggaran
"Kalau mau edukasi pun susah, karena gaya hidup. Kita hanya bisa antisipasi dengan peralatan serba ringan, disini lain eiger harus terus memberikan edukasi. Boleh ke gunung kondisi sesulit apapun tapi kuasai dulu," sarannya.
Sementara itu brand ambassador Eiger Sofyan Arief Fesa mengaku para pendaki saat ini sulit dirubah atau diedukasi mereka memiliki style pendakian baru.
"Saya juga pelaku tek tok, sekarang itu punya style pendakian baru dan sulit dirubah. Seperti mendaki hanya berbekal sosis dan roti, pakai celana gombrang, sepatu yang lagi trend, tidur di tengah jalan tanpa tenda cukup sleeping bag, pendakian sampai 12 jam yang padahal bisa cuma 5 jam," ungkapnya.
Baca Juga: Tak Setuju Dipecat, Beredar Kabar Prabowo Minta Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur
Sedang terkait keselamatan peralatan kamping yang harus dimiliki para pendaki, baik Mamay maupun Sofyan sepakat peralatan saat ini lebih canggih dan berkualitas.
Dan mereka percaya untuk keamanan produk Eiger cukup mumpuni.
Hal itu dibuktikan Eiger dengan mengajak puluhan wartawan ke pabriknya.
Baca Juga: Gubernur DKI Jakarta Siap Carikan Lahan Tambahan untuk Sekolah Rakyat Kemensos
Dikatakan Public Relation Sulhan Syamsul Rijal bahwa per hari Eiger membuat sekitar 6000 unit tas dengan kondisi kualitas harus sempurna, karena jika ditemukan sedikit saja kerutan maka tas akan dibongkar ulang untuk dibuat hingga lolos quality control (QC).
Sebelumnya para kuli tinta ini diajak mengenali sejarah panjat tebing di tebing Citatah 125 Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di tebing yang dulu disebut tebing Pabeasan merupakan kawasan karst.
Menurut warga lokal sekaligus pegiat panjat tebing, Yoga Zara dan Hasan Husaeri tebing ini salah satu tebing ikonik sebagai cikal bakal sekaligus perkembangan olahraga panjat tebing modern di Indonesia.
Baca Juga: Pertamina Minta Maaf atas Kendala Layanan, Pasokan BBM Jabodetabek Dipastikan Tetap Aman
"Pabeasan memiliki makna simbolis sebagai bentuk pertahanan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan kawasan tebing karst tersebut. Adapun nama Citatah 125 muncul karena di sekitar lokasi terdapat pabrik PT Citatah. Orang-orang dari luar kemudian menggunakan nama itu sebagai penanda lokasi. Sementara angka 125 merujuk pada tinggi tebing," ujar Yoga.
Tebing ini berada di tengah kawasan industri dan aktivitas penambangan batu kapur, dimanfaatkan sebagai lokasi latihan serta pengembangan kemampuan para pemanjat dari berbagai daerah.
Sementara itu, Hasan Husaeri menjelaskan bahwa kawasan tersebut saat ini berstatus sebagai destinasi wisata.
Namun bersama sejumlah pegiat lingkungan dan komunitas panjat tebing, pihaknya terus mengupayakan agar kawasan itu tetap terlindungi sebagai kawasan konservasi alam.
"Kami khawatir semakin masifnya aktivitas penambangan dan industri batu kapur berpotensi mengancam kelestarian kawasan bernilai sejarah, geologi, olahraga, sekaligus edukasi ini. Sebelumnya status kawasan ini merupakan kawasan cagar alam geologis. Sekarang beralih menjadi kawasan wisata, berdampingan dengan kawasan tambang dan industri. Tetapi pengelolaan wisatanya dipegang oleh BUMDes," ujar Hasan.
1 Day Trip ini sengaja dilakukan dengan tujuan Eiger ingin memperkenalkan filosofi mereknya sekaligus menumbuhkan semangat petualangan, pelestarian alam, dan inspirasi bagi masyarakat melalui pendakian gunung.***


