POJOKSATU.ID - Sehari pasca kejadian kecelakaan antara kereta Freder Whoosh dengan mobil sigra, nomor polisi D 1859 AJY di Kampung Sumur Bor, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Kamis 14 Desember 2023 sekitar pukul 13.00 WIB menjadi sorotan berbagai pihak.

Salah satunya datang dari Kepala Desa CIlame Aas Mochammad Ansor mengungkapkan, pihaknya turut prihatin dengan peristiwa kecelakaan ini.

Dijelaskan Aas bahwa kejadian ini bukan kejadian pertama tapi sudah beberapa kali terjadi di desanya.

Baca Juga: Debat Cawapres Pemilihan Presiden 2023: Agenda, Tema, dan Format Pertarungan Strategis untuk Masa Depan Indonesia

"Sudah sering kejadian, tapi sampai kini belum ada upaya pencegahan dari PT KAI , misalnya dengan membuat palang pintu yang resmi, " jelasnya, Jumat 15 Desember 2023.

Aas mengaku bahwa selaku Kades, dirinya pernah mengusulkan agar ada palang pintu  di lintasan kereta api tersebut, ke Pemda KBB (kabupaten Bandung Barat).

"Saya pernah mengusulkan (palang pintu perlintasan) oleh Dishub KBB, namun hingga kini tak ada kejelasan. Selama ini hanya dijaga warga, itupun atas inisiatif mereka agar tidak ada kendaraan yang mengalami kecelakaan, " jelasnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Fatimah, Wanita Tomboy Pertama yang Menjadi Mekanik Bengkel di Depok

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) KBB, Fauzan Azim menjelaskan bahwa perlintasan sebidang yang berada di Kampung Sumur Bor, Desa Cilame itu tidak resmi dan sudah digunakan sejak KBB belum berdiri.

Bahkan, seiring dengan berdiri KBB jalan tersebut tetap digunakan dan kini sudah berstatus jalan kabupaten.

'Itu bukan perlintasan resmi, memang perlintasan itu ditutup," terangnya.

Baca Juga: Ferencvaros vs Fiorentina dalam Penutupan Grup Liga Konferensi Eropa UEFA

Diakuinya bahwa kebutuhan masyarakat cukup tinggi di daerah tersebut, sehingga masyarakat mengusulkan agar ada palang pintu kereta api resmi.

"Karena volume lalu lintas cukup tinggi dan sekarang sudah ada lagi kereta tambahan Feeder Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB)," jelasnya.

Oleh karena itu, sambung Fauzan, untuk meningkatkan keselamatan pihaknya telah mengusulkan agar bisa melakukan berbagai treatment.

"Sebenarnya kalau tidak resmi harusnya ditutup, karena kepentingan masyarakat lebih banyak dan tidak ada alternatif lain, kita harus bijak apa yang kira-kira terbaik untuk dilakukan tanpa mengurangi aspek keselamatan," pungkasnya. ***