POJOKSATU.id, BANDUNG – Dua sosok pendidik muda asal Jawa Barat kembali mengharumkan dunia literasi nasional. Assoc. Prof. Dr. Anggy Giri Prawiyogi, M.Pd., M.Sn, dosen Program Studi PGSD Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang, bersama istrinya Annita Rosalina, S.Pd., M.Pd., guru SDN 1 Gandamekar Purwakarta, berhasil meraih Anugerah Parasamya Susastra Nugraha Indonesia 2025.
Penghargaan itu diberikan dalam acara yang berlangsung di Hotel Travello Bandung, Minggu (26/10/2025), dan dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat.
Anggy Giri mendapatkan penghargaan melalui karya akademisnya berjudul “Bahasa dan Sastra Anak SD”. Karya tersebut dinilai memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan literasi dasar di sekolah dasar, sekaligus menjadi referensi edukatif bagi guru dan mahasiswa pendidikan.
Usai menerima penghargaan, Anggy menyampaikan bahwa literasi harus menjadi pondasi pendidikan. Ia menegaskan, "Literasi itu bukan sekadar soal membaca dan menulis. Literasi adalah proses membentuk pola pikir, menata logika, dan membangun karakter anak sejak dini. Pendidikan tanpa literasi yang kuat ibarat bangunan tanpa fondasi.”
Baca Juga: Assc. Prof. Dr. Anggy Borong 3 Penghargaan di Dies Natalis UBP Karawang yang ke-11
Sementara itu, Annita Rosalina meraih apresiasi lewat karyanya yang kreatif berjudul “PITA (Pantun Inspirasi Anak)”. Karya tersebut berhasil menarik perhatian dewan juri karena menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal.
Melalui pantun, Annita mengajak anak belajar bahasa Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan tradisi. Program literasi yang ia terapkan bahkan diklaim mampu meningkatkan minat baca siswa di sekolahnya.
“Pantun itu bukan sekadar rima, tapi cara sederhana melatih anak berpikir logis, kreatif, dan berani berekspresi,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Penghargaan Parasamya Susastra Nugraha Indonesia 2025 menjadi bukti bahwa literasi tidak hanya hidup di ruang akademik, tetapi juga bisa tumbuh dari ruang-ruang kelas sederhana di sekolah dasar. Anggy menegaskan bahwa capaian ini bukan prestasi pribadi semata, melainkan tugas tri dharma dosen serta bentuk tanggung jawab moral terhadap dunia pendidikan.
“Kami hanya ingin terus berkarya dan memberi manfaat. Selama masih ada waktu dan kesempatan, kami akan tetap berjuang melalui literasi,” ungkapnya.
Acara ini juga menjadi momentum penting bagi pegiat literasi di Indonesia untuk memperkuat gerakan membaca dan menulis di tengah derasnya arus digital. Di balik gemerlap penghargaan yang diterima malam itu, ada pesan yang ingin disampaikan: pendidikan yang baik tidak hanya memajukan pengetahuan, tapi juga menumbuhkan peradaban. Dan literasi adalah jantungnya. ***




