POJOKSATU.id, Kota Bandung - Selama musim kemarau tahun 2026 ini, kebakaran lahan terjadi sebanyak 28 titik.

Sedang total kebakaran selama kekeringan di kota Bandung tercatat ada 59 kali kejadian. Ke-28 kejadian itu di antaranya terjadi di lahan kosong tidak terurus.

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kurniawan Jusup menyampaikan penyebab kebakaran umumnya karena aktivitas manusia, seperti membakar sampah secara sengaja dan sembarangan, selain itu ada juga akibat anak-anak bermain api.

Baca Juga: Kampus UI Depok Ditutup Sementara pada 9 Agustus 2026, Ini Dampaknya bagi Mahasiswa dan Masyarakat

"Meskipun kebakaran dapat membersihkan lahan, dampak negatifnya termasuk pencemaran udara dan biaya pemadaman ditanggung pemerintah," ujarnya.

Saat ini, meskipun sudah ada hujan di beberapa titik, namun potensi kekeringan diprediksi akan berlanjut hingga bulan September.

Oleh karena itu masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga, serta berpartisipasi dalam upaya pencegahan kebakaran.

Baca Juga: Bukan Sekadar Juara, AXIS Nation Cup 2026 Jadi Panggung Pemain Futsal Muda Bogor

"Kami sudah rapat koordinasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk relawan pemadam kebakaran. Jadi saya sampaikan terkait dengan kekeringan ini kita berupaya untuk melakukan mitigasi dan sosialisasi setelah edukasi kepada masyarakat karena memang kondisi cuaca yang demikian kering, kemudian juga menurut catatan BMKG bahwa puncak kemarau itu akan terjadi di bulan Juli, Agustus, September," jelas Kurniawan.

Lanjutnya, dilihat dari pola kejadian kebakaran, di bulan Juli lalu menjadi kejadian tertinggi sepanjang dari Januari sampai bulan Juli 2026.

Berdasarkan inventarisir kebakaran alang-alang, lahan kosong, atau lahan terbuka lainnya naik cukup signifikan. Sedang kebakaran disebabkan arus listrik terbilang sedikit.

Baca Juga: Webinar Gratis Future Educators Bahas Digitalisasi Pembelajaran yang Mudah Diterapkan Guru, Dapat Sertifikat Resmi

"Jadi kalau bakar lahan yang tempat sampah atau bukan itu pempicunya bukan listrik bukan gas tapi karena kelalaian manusia dari mulai aktivitas pembakar sampah yang tidak diawasi, tidak diperhatikan dan akhirnya terbakar, " ujarnya.

Masih kata Kurniawan sepanjang bulan Juli ini angin cukup kencang maka terjadi perambatan sehingga memicu terjadinya kebakaran.

"Belum lagi yang dipicu oleh anak-anak saat bermain api, bakar-bakaran tanpa sadar apinya membesar dan akhirnya terjadi kebakaran," jelasnya lagi.

Baca Juga: Cara Setting Kamera Laptop agar Tidak Mirror di Windows dan Mac, Mudah untuk Zoom hingga Teams

Lahan dimaksud, kata Kurniawan adalah lahan-lahan yang terlantarkan, dibiarkan, tak diurus oleh pemiliknya hingga tumbuh alang-alang atau rumput liar.

Dengan lahan terbakar memang menjadi bersih sehingga tidak menimbulkan kerugian hanya saja bagi warga sekitar khawatir api membesar kemana-mana dan tentunya polusi udara.

"Ya gak rugi buat pemilik tapi terjadi pencemaran polusi udara untuk sekitar kemudian dari sisi Pemerintah kami juga kan mengeluarkan anggaran untuk melakukan pemadaman," ucapnya.

Pihaknya menghimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati apabila tidak sengaja melakukan pembakaran lahan.***