POJOKSATU.id, Kabupaten Bandung – Bupati Bandung, Dadang Supriatna atau KDS memastikan penanganan bencana longsor di wilayah Kecamatan Kutawaringin dilakukan secara kolaboratif melalui pendekatan Pentahelix.

Langkah tersebut melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, masyarakat, serta unsur terkait lainnya.

KDS mengatakan, penanganan secara kolaboratif diperlukan karena masing-masing unsur memiliki kewenangan dan ketentuan dalam penggunaan anggaran. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi hambatan dalam memberikan penanganan cepat kepada masyarakat yang terdampak.

Baca Juga: Mewah Tak Harus Mahal, Bikin Bioksop Pribadi di Rumah Kini Makin Nyata Berkat TV Ini

Hal itu disampaikan KDS saat melakukan monitoring dan peninjauan lokasi bencana longsor di Kecamatan Kutawaringin, Kamis (10/9/2026).

“Ini dilakukan secara Pentahelix. Karena kondisi anggaran kita masing-masing punya aturan dan kewenangan. Tetapi alhamdulillah, saya melihat kekompakan para petani. Hampir 300 orang sudah melakukan gotong royong untuk penanganan sementara,” ujar KDS.

Menurutnya, terdapat sejumlah langkah yang dilakukan Pemkab Bandung bersama unsur terkait untuk menangani dampak bencana tersebut.

Baca Juga: Honda Bikers Day 2026 Bawa Semangat 'Brotherhood' Lintas Generasi di Empat Pulau

Pertama, Pemkab Bandung telah memberikan bantuan biaya kontrakan selama tiga bulan kepada lima keluarga yang rumahnya terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan warga tidak tetap tinggal di lokasi yang berpotensi mengalami kejadian susulan.

KDS juga meminta dua keluarga yang rumahnya berada di sekitar sempadan sungai atau daerah irigasi agar mempertimbangkan untuk pindah ke lokasi yang lebih aman.

“Untuk lima penghuni kita berikan bantuan untuk ngontrak dulu selama tiga bulan. Jangan sampai ada kejadian susulan. Untuk dua rumah yang berada dekat sempadan sungai atau irigasi, saya minta pindah lokasi,” katanya.

Baca Juga: Isi Lengkap SE BKN Nomor 7 Tahun 2026? Ini Tautan Akses Dokumen Resminya!

Kedua, Pemkab Bandung akan melakukan perbaikan terhadap rumah warga melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, terdapat 10 unit rumah yang membutuhkan penanganan.

Dari jumlah tersebut, dua unit rumah akan ditangani melalui BAZNAS Kabupaten Bandung, sedangkan delapan unit lainnya akan ditangani Pemerintah Kabupaten Bandung.

“Yang tadi saya lihat ada 10 unit rumah yang memang harus kita perbaiki. Dua unit dikelola BAZNAS Kabupaten Bandung dan delapan unit oleh Pemerintah Kabupaten Bandung. Insya Allah dalam waktu dekat kita koordinasikan secara teknis,” ujarnya.

Baca Juga: Area Pencarian Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda Banten Diperluas, SAR kini Bergerak ke Arah Utara Sekitar Gunung Krakatau

Ketiga, penanganan sementara terhadap infrastruktur irigasi dilakukan bersama-sama oleh unsur PSDA dan para petani. KDS mengapresiasi gotong royong masyarakat yang bergerak cepat untuk mengurangi dampak kerusakan akibat jebolnya saluran irigasi.

Keempat, Pemkab Bandung akan mendorong penanganan jangka panjang melalui pemerintah pusat, khususnya untuk perbaikan Daerah Irigasi (DI) Luwikuya.

KDS mengatakan, dirinya telah berkomunikasi dengan Sekretaris Direktorat Jenderal terkait, Dani, untuk menyampaikan kondisi tersebut.

Baca Juga: Hadir dengan Sentuhan Baru, Honda CT125 Makin Ikonik dan Berkarakter

Usulan penanganan selanjutnya akan diproses melalui program Sipuri dengan koordinasi bersama BBWS Sungai Citarum, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Pekerjaan Umum.

“Insya Allah tahun ini secara serentak kurang lebih Rp334 miliar program ini akan masuk ke Kabupaten Bandung. Dengan karya bareng, gotong royong, dan kekompakan, saya kira ini bisa selesai,” tuturnya.

Di sisi lain, KDS mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Masyarakat yang tinggal di sekitar sempadan sungai maupun daerah irigasi diminta tidak mengabaikan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Baca Juga: Sebelum Memasang APK Betting, Periksa Sumber dan Akunnya Lebih Dulu

“Kalau ada kekhawatiran dan sebagainya, segera sampaikan dan hubungi kepala desa atau camat, sehingga kami bisa mengantisipasi sejak dini,” katanya.

KDS juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran di tengah kondisi kemarau panjang. Ia menyebut hampir 175 titik kebakaran telah terjadi di Kabupaten Bandung.

“Jangan membuang sampah atau puntung rokok sembarangan. Jangan membuang sesuatu yang bisa menyebabkan kebakaran,” ujarnya.

Baca Juga: Link Download Panduan Mapel Semua Jenjang Resmi Kemdikdasmen, Panduan Guru untuk Capaian Penbelajaran

Sementara itu, salah seorang warga Desa Kutawaringin, Riki Alfi (27), menceritakan kejadian yang berlangsung sekitar pukul 04.00 WIB. Menurutnya, warga mendapat informasi mengenai derasnya aliran air sebelum mengetahui saluran irigasi mengalami jebol.

“Tabuh opat subuh. Geus ieu téh cenah ti lebak téh warga téh langsung, ‘Euh, éta cai cenah ngabébétkeun.’ Ieu irigasi jebol atuh. Cai ageung,” tutur Riki.

Artinya, “Sekitar pukul empat subuh. Warga langsung mendapat kabar bahwa air dari arah bawah sudah deras. Ternyata irigasinya jebol. Airnya besar.”

Baca Juga: Bukan Gempa atau Gunung Meletus, Ini Bencana yang Paling Banyak Terjadi di Indonesia hingga September 2026

Riki menduga kondisi tanah dan jalan yang sebelumnya kering kemudian diguyur hujan turut memperparah kondisi.

“Teu kuat meureun ku cai irigasi jeung ku cai hujan,” katanya.

Artinya, “Mungkin tidak kuat menahan air irigasi dan air hujan.”

Derasnya aliran air tersebut kemudian menyebabkan satu rumah warga terseret. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

“Sa imah nu palidna mah. Karunya. Tapi teu aya korban, untungna téh,” ujar Riki.

Artinya, “Ada satu rumah yang terseret. Kasihan. Tapi untungnya tidak ada korban.”

Warga kemudian melakukan penanganan sementara dengan menutup bagian saluran yang jebol untuk mengurangi derasnya aliran air.

KDS menegaskan, Pemkab Bandung akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memastikan penanganan bencana maupun perbaikan infrastruktur dapat berjalan secara cepat dan terintegrasi.

“Pemerintah Kabupaten Bandung akan terus berkomitmen untuk memperbaiki dan melakukan upaya-upaya demi perbaikan dan penertiban di wilayah Kabupaten Bandung,” pungkasnya.***