POJOKSATU.id, Kota Bandung - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui kondisi sampah di kota Bandung saat ini masih kritis.
Hal itu karena setiap dua minggu terjadi pengurangan kuota masuk ke TPA Sarimukti.
Namun, pihaknya tidak diam. Beberapa solusi tengah dilakukan.
Salah satunya yakni memenuhi undangan dari pemerintah provinsi untuk turut berpartisipasi menjadi penyelenggara PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik).
"Sesuai dengan komitmen Gubernur yang akan menjadikan TPA Sarimukti sebagai lokasi PSEL dan hari ini mengundang PT BII untuk menjadi salah satu pelaku pelaksanaan PSEL di Bandung Raya, saya tidak tahu pastinya dimana karena itu keputusan pak Gubernur," jelas Farhan di balai kota, Senin 11 Mei 2026.
Hanya saja kata Farhan sebagai kuasa pemilik modal (KPM) dari PT BII, maka wali kota berkewajiban memastikan bahwa keikutsertaan PT BII dalam penyelenggaraan PSEL ini tidak melanggar aturan.
"Tidak melanggar keputusan wali kota pada tahun 2013 yang telah menunjuk konsorsium PT Bril dan Guang Zhou dan tidak melanggar ketentuan dari keputusan Mahkamah Agung tentang gugatan praktek monopoli ditahun 2017, saya akan memastikan hal itu dulu terjadi sebelumnya. Hari ini rapat dengan gubernur sebelum jam 11 nanti," tegasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Darto menegaskan bawah
kondisi sampah hari ini masih terkendali tetapi perlu diwaspadai bahwa kuota akan semakin berkurang dari rata-rata 980 ton per hari akan ditekan hingga mencapai 600 ton.
"Karenanya perlu antisipasi sangat serius untuk menangani kondisi tersebut," jelas Darto.
Darto pun mengungkapkan saat ini sudah ada metode kompos pit sebanyak 1.510 unit se kota Bandung dengan volume diatas 2.800 meter kubik.
"Nah kita membutuhkan setidaknya 25.000 unit kompos pit, yang diperlukan untuk menangani sampah organik saja sebesar lebih dari 600 ton sehari," jelasnya.
Farhan menambahkan bahwa kompos pit ini akan dibangun di semua RW.
"Jadi kurang lebih di setiap RW mesti ada 4 minimal kompos pit ukuran panjang 2 meter lebar 1 meter kedalaman 1 meter yang akan bisa menampung sampah organik selama kurang lebih 3 bulan sebelum dipanen. Ini bak nanti tanam semua disitu, tapi itu bukan satu-satunya. Kita sudah ada magot, loseda, pemanfaatan untuk hewan ternak sudah ada, komposter, pakan ternak sudah ada," paparnya.
Terkait sampah di perbatasan kata Farhan itu masalah ketertiban.
Bagaimanapun juga pihaknya sangat mengharapkan semua sama-sama tertib dalam pengelolaan sampah.
"Tanggungjawab bersama jadi sampah yang menumpuk didaerah perbatasan akan kita pastikan tidak ada sampah yang datang dari luar wilayah kota Bandung demikian juga warga tidak boleh membuang ke wilayah pasar," tegasnya.
Karenanya kata Farhan TPS mulai akan dibatasi daya tampungnya. Farhan berrencana menutup TPS setiap hari Jumat Sabtu Minggu sehingga warga RW dan Kelurahan harus mencari solusi untuk penanganan sampah organik di wilayah masing-masing.
"Waktu pertama kali kita coba, kita mengalami pemotongan kuota dihari kamis waktu itu. Kita bisa menekannya kita bisa menambah kapasitas untuk mengelola sampah terutama di hari Jumat Sabtu dan Minggu. Pengelolaan di pasar Caringin hebat bagus, sudah bisa, sudah diadopsi di pasar Gedebage tapi belum berhasil dengan baik, tapi nanti saya akan minta pengelola pasar Caringin untuk membantu kita di Gedebage," ucapnya lagi.
Untuk metode mesin pembakaran sampah atau insenarator dulu sempat ditutup akan diaktifkan kembali.
Kata Farhan ada 18 unit yang akan diaktifkan kembali dengan kapasitas total semua kurang lebih 180 ton per hari.
"Yang satu unit memang belum bisa optimal itu yang ada di rumah deret Tamansari belum lulus uji emisi,
kita akan nambah lagi dua unit dengan APC (air polutan control) yang memang ini mahal pisan harganya 2 kali lipat," jelasnya.



