POJOKSATU.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai sistem rekrutmen mahasiswa kedokteran perlu direformasi dengan standar seleksi yang lebih ketat, serupa dengan akademi militer dan kepolisian.
Hal ini dinilai penting untuk melahirkan tenaga medis yang berintegritas dan memiliki kompetensi tinggi.
“Dunia kedokteran itu harus dikembalikan dari rekrutmen mahasiswanya. Jadi mahasiswa standarnya kecerdasan, baik akademis maupun emosional,” ujar Dedi usai menghadiri Seminar Nasional Pencegahan Perundungan, Gratifikasi, Korupsi, dan Tindak Pidana Kekerasan Seksual di Lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Baca Juga: Kapten Penculik Kepala Cabang BRI Cempaka Putih Ungkap Nama-nama Anggotanya yang Terlibat
Menurutnya, profesi dokter memiliki tanggung jawab besar karena setiap keputusan yang diambil berhubungan langsung dengan hidup dan matinya pasien.
Karena itu, ia menolak praktik rekrutmen calon mahasiswa kedokteran hanya berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua.
“Seleksinya harus beda, tidak boleh didasarkan pada uang. Karena seorang dokter memegang nyawa manusia,” tegasnya.
Baca Juga: PLN Tunjukkan Keandalan Sistem Listrik Berlapis di Momen Kenegaraan
Selain rekrutmen, Dedi menyoroti pentingnya pengalaman kerja lapangan dalam pembentukan dokter spesialis.
“Manusia tidak hanya dibentuk sekolah akademik, tapi juga pengalaman kerja. Itu yang mengasah kepekaan seorang dokter,” katanya. ***



