POJOKSATU.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Maret 2025 sebesar 1,69 persen, meningkat signifikan dibanding Februari 2025 yang sebesar 0,69 persen.

Kenaikan ini menjadikan Maret sebagai bulan dengan inflasi tertinggi sepanjang tahun berjalan.

BPS Kota Bandung, dalam laporannya, menyebutkan tarif listrik menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil mencapai 1,28 persen.

Selain itu, komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah cabai rawit, bawang merah, dan angkutan antarkota yang masing-masing memberi andil 0,07 persen, serta bawang putih (0,04 persen).

Baca Juga: Residen Anestesi Unpad Ternyata Sudah Ditahan Polda Jabar Sejak 23 Maret, atas Dugaan Kekerasan Seksual di RSHS

Sementara itu, kelompok makanan dan energi menjadi pendorong utama kenaikan harga, termasuk kontrak rumah, minyak goreng, dan daging ayam ras. Di sisi lain, angkutan udara dan biskuit tercatat menyumbang deflasi meski dalam jumlah kecil, masing-masing -0,01 persen.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kota Bandung pada Maret 2025 tercatat sebesar 0,62 persen, lebih rendah dibanding inflasi Jawa Barat (0,81 persen) maupun nasional (1,03 persen).

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yoy antara lain emas perhiasan (0,40 persen), cabai rawit (0,21 persen), sigaret kretek mesin (0,19 persen), serta sewa rumah dan minyak goreng.

Meski demikian, tarif listrik masih menjadi faktor deflasi tahunan terbesar dengan andil -1,26 persen, diikuti penurunan harga daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras.

Baca Juga: HONORER Harus Tahu! Cara Cetak Kartu Ujian PPPK Tahap 2 untuk Mengetahui Pembagian Jadwal dan Lokasi Ujian

Dari sisi inflasi kumulatif atau year-to-date (ytd), Kota Bandung mencatatkan angka 0,05 persen, jauh di bawah angka Jawa Barat (0,29 persen) dan nasional (0,39 persen).

Ini menjadikan Kota Bandung sebagai daerah dengan inflasi ytd terendah kedua di Jawa Barat setelah Kabupaten Majalengka.

BPS memperkirakan tekanan inflasi masih akan berlanjut pada April 2025, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri, khususnya pada komoditas pangan dan transportasi. ***