POJOKSATU.id, BANDUNG – Bau tak sedap kembali menyeruak dari dapur demokrasi negeri ini. Kali ini, bukan cuma sekadar gosip warung kopi, tapi aroma dugaan suap seorang pengusaha yang terendus tajam, menyasar eks pejabat penting di tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) salah satu provinsi di Indonesia.
Menurut informasi yang dikantongi redaksi, sang eks pejabat ini diduga menerima "ijon" alias uang muka manis-manis sebelum musim pemilu 2024 lalu. Nilainya? Tak tanggung-tanggung: Rp2 miliar cash keras, plus satu unit mobil mewah yang bikin mata berkedip dua kali. Mobilnya juga keluaran terbaru dengan warna mencolok. (Dokumentasi mobil sudah dikantongi redaksi).
Konon, mobil mewah dan uang tersebut bukan diberikan cuma-cuma. Ada embel-embel janji surga di baliknya yakni paket proyek pekerjaan senilai puluhan miliar rupiah di tubuh KPU.
Tim Redaksi Pojok Satu juga sudah menerima beberapa bukti rekaman foto dan video dan rekaman suara soal keberadaan mobil merah tersebut. Bahkan saat kasus ini menyeruak, sang oknum pengusaha itu langsung buru-buru menarik mobil mewah itu dari seorang oknum pejabat KPU. Dokumentasi pengembalian mobil itu juga sudah masuk ke meja redaksi sebagai bukti.
"Ini bukan hanya soal uang dan mobil, tapi menyangkut kredibilitas lembaga pemilu yang selama ini digadang-gadang sebagai wasit demokrasi. Kalau wasitnya main mata, ya permainannya bisa kacau balau," ujar seorang pengamat politik yang minta namanya disamarkan karena alasan keamanan.
Publik pun dibuat geleng-geleng kepala. Di tengah euforia pemilu dan harapan akan perubahan, justru ada yang diduga memanfaatkan celah kekuasaan untuk meraup keuntungan pribadi.
Aroma busuk ini tak bisa lagi ditutup-tutupi dengan parfum pencitraan. Sudah saatnya dibongkar tuntas, siapa bermain di balik layar, siapa menerima, siapa memberi, dan siapa yang sebenarnya jadi korban permainan politik dagang sapi ini.
Meski belum ada keterangan resmi dari pihak terkait, masyarakat diminta untuk tetap kritis dan tak mudah silau dengan gemerlap demokrasi yang ternyata bisa dikorupsi sejak sebelum kotak suara dibuka.
Redaksi Pojok Satu akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan menyajikan informasi terkini jika ada keterangan resmi dari pihak berwenang.***




