POJOKSATU.id, Kota Bandung - RSUD Bandung Kiwari terus memperkuat kualitas pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) melalui evaluasi berkala terhadap indikator pelayanan serta peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk menghadirkan pelayanan kegawatdaruratan yang lebih cepat, responsif, dan berkualitas bagi masyarakat.

Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Bandung Kiwari, dr. Afriani Altis menjelaskan, evaluasi terhadap pelayanan IGD dilakukan secara rutin, terutama pada indikator response time dan waktu tunggu pasien sebagai tolok ukur kualitas layanan kegawatdaruratan.

Baca Juga: Orang Tua Diimbau Tak Tergiur Klaim Kemasan, Prof Rini Sekartini: Biasakan Cek Komposisi Produk Nutrisi Anak

“Berdasarkan data Januari hingga Juni 2026, capaian response time IGD telah mencapai sekitar 99 persen. Artinya, hampir seluruh pasien yang datang ke area triase telah mendapatkan penanganan awal dalam waktu maksimal lima menit sesuai standar pelayanan nasional,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan yang perlu dibenahi.

Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas area triase yang saat ini hanya memiliki empat tempat tidur.

Baca Juga: BPBD Kota Bandung Siaga Kemarau, 9 Kecamatan Masuk Daftar Wilayah Rawan Kekeringan

Ketika ruang triase maupun ruang observasi penuh, pasien terpaksa menunggu sementara di ruang tunggu hingga tersedia tempat untuk dilakukan penanganan awal.

Selain response time, RSUD Bandung Kiwari juga mengevaluasi waktu tunggu pasien di IGD.

Berdasarkan hasil evaluasi, sebanyak 69 persen pasien telah mendapatkan pelayanan sesuai standar dengan waktu tunggu maksimal enam jam.

Baca Juga: Modal Rekor dan Kemenangan, Ramadhipa Bidik Hasil Maksimal di Moto3 Junior Jerez

Sementara itu, sekitar 31 persen pasien masih mengalami waktu tunggu lebih dari enam jam.

Menurut dr. Afriani, kondisi tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas ruang rawat inap, terutama bagi pasien kasus medis (medical), serta proses rujukan pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.

“Hasil evaluasi menunjukkan bahwa lamanya waktu tunggu terutama dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas ruang rawat inap, khususnya bagi pasien kasus medis (medical), serta proses rujukan pasien yang membutuhkan tindakan lanjutan,” jelasnya.

Baca Juga: MPLS Sekolah Rakyat Dimulai 14 Juli 2026, Gus Ipul Keluarkan 6 Arahan Penting untuk Pastikan Pelaksanaannya Berjalan Lancar

Ia menambahkan, RSUD Bandung Kiwari juga cukup banyak menerima pasien dengan serangan jantung yang memerlukan tindakan kateterisasi.

Meskipun rumah sakit telah memiliki laboratorium kateterisasi jantung, layanan tersebut hingga kini belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga pasien yang membutuhkan tindakan tersebut masih harus dirujuk ke rumah sakit lain.

“Proses pencarian rumah sakit rujukan yang memiliki ketersediaan layanan turut memengaruhi lamanya waktu tunggu pasien di IGD,” katanya.

Baca Juga: Sinopsis Film Anak-Anak Bambu, Kisah Hangat Persahabatan Anak Yatim yang Siap Menguras Air Mata

Sementara itu, Direktur RSUD Bandung Kiwari, dr. H. Arief Budiman, Sp.A(K)., M.Kes., menegaskan bahwa pembenahan layanan IGD tidak hanya dilakukan melalui peningkatan sarana dan prasarana, tetapi juga dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai ujung tombak pelayanan.

“Untuk meningkatkan kualitas pelayanan di IGD, RSUD Bandung Kiwari menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai salah satu langkah pembenahan utama. Pelayanan kegawatdaruratan merupakan pelayanan yang dituntut berlangsung cepat sehingga membutuhkan koordinasi yang baik dari seluruh tim,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, rumah sakit akan kembali menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga medis, khususnya dokter jaga, mengenai sistem triase, penentuan prioritas penanganan pasien, serta standar pelayanan di IGD.

Baca Juga: CPNS Guru 2027 Dipastikan Dibuka, Pemerintah Siapkan Rekrutmen untuk Atasi Kekurangan 561 Ribu Guru, Ini Syarat Lengkapnya

Langkah tersebut dinilai penting mengingat adanya pergantian dokter jaga secara berkala sehingga diperlukan pemahaman yang seragam dalam memberikan pelayanan kegawatdaruratan.

Selain meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, RSUD Bandung Kiwari juga berencana menambah jumlah dokter jaga di IGD guna mempercepat proses penanganan pasien.

“Penambahan tenaga medis tersebut diharapkan dapat mempercepat proses penanganan pasien sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat,” tutup dr. Arief.

Melalui evaluasi berkelanjutan, penguatan kompetensi tenaga kesehatan, serta penambahan personel medis, RSUD Bandung Kiwari terus berupaya menghadirkan layanan IGD yang semakin cepat, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Langkah ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan pelayanan kegawatdaruratan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang diberikan.***