POJOKSATU.id, Kota Bandung - Sejumlah harga komoditas pangan naik signifikan diantaranya daging ayam sudah dua minggu ini atau sejak masuk sekolah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dilakukan harga tiap hari naik, dari Rp 38 ribu kini Rp 48 ribu.

"Sejak ada MBG anak anak masuk sekolah, harga daging ayam tiap hari naik Semula 38 jadi 48. Saya gak tahu kenapa alasannya, kemungkinan itu dari pusat, saya cuma beli ke pemasok aja," ujar salah seorang pedagang daging ayam di pasar Cihapit.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku belum bisa menstabilkan harga, karena harus mengecek terlebih dahulu ke pengusaha besar daging ayam potong terkait kenaikan harga tersebut.

Baca Juga: Kejagung Kembali Tetapkan Tersangka Baru di Kasus TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Amankan 2 Alat Bukti Ini

"Nah, itu saya enggak tahu. Saya mesti ngecek. Saya mesti nanya ke para pengusaha besar ayam. Yang biasanya memang ada tiga jenis ayam kan? Ayam potong broiler yang umurnya sekitar 28 sampai 30 hari. Terus ayam jantan 2 bulan apa 3 bulan itu saya lupa. Terus satu lagi ayam kampung. Ayam kampung mah tergantung musim," ungkap Farhan usai monitoring harga bersama jajaran dan Forkompinda, Jumat (31/7/2026).

Selain itu kata Farhan pihaknya pun tidak bisa melakukan operasi pasar. Karena stok untuk operasi pasar hanya ada beras, gula, dan minyak kota sedang daging ayam tidak ada stok.

Sebelumnya Farhan melakukan monitoring harga pangan di pasar Cijerah. Kata dia pemantauan dilakukan di wilayah kota Bandung bagian Barat dan bagian tengah pasar Cihapit.

Baca Juga: Pertamina Perkuat Ketahanan Energi, Terminal Tanjung Sekong Pasok Hingga 40 Persen LPG Nasional

Kedua pasar memiliki dua karakter konsumen berbeda, di pasar Cijerah daerah perbatasan, perumahan, perumnas, dan perumahan padat.

Sedangkan di pasar Cihapit secara ekonomi sosial berada di angka yang lebih tinggi. Akibatnya barang yang sama harganya berbeda.

Tetapi kata Farhan, di antara semua komoditas yang diperhatikan untuk suplai semua aman tidak ada yang kekurangan.

Baca Juga: Asyik Main Ponsel Saat Rakor Online, Korwil BGN Kayong Utara Langsung Diperintahkan Pindah Tugas ke Papua

"Tetapi ada dua komoditas yang harganya khusus naik secara khusus. Yang pertama itu timun. Timun yang biasanya harga 10.000-an sekarang naik dua kali lipat. Nah, ini menjadi perhatian. Kemudian juga harga ayam, secara merata, ayam potong itu harganya naik semua, sudah di atas 40 sampai mendekati ke 50 ya, ini memang mahal. Perbedaannya cuman kalau di Cihapit secara rata-rata 10% harganya lebih mahal daripada di Cijerah. Ya, wajar karena memang profil cost konsumennya juga berbeda-beda," tegasnya.

Lanjut Farhan pihaknya akan memantau dan memastikan suplai aman atau paling tidak 30% kebutuhan minyak dan kebutuhan beras ada dari Bulog.

"Karenanya menghimbau agar seluruh para pedagang itu mengunduh aplikasi SPHP dan Mirah, tujuannyaagar nanti kalau memang ada kebutuhan mendesak atau kebutuhan yang tiba-tiba meningkat bisa langsung pesan. Karena ada 30% suplai beras dan minyak yang datang dari Bulog. Sementara i cabai dan lain-lain semua kelihatan panennya bagus ya," tegasnya.

Baca Juga: PNJ Terapkan Sistem Otomasi Berbasis IoT di Kebun Anggur Depok

Farhan pun menyebutkan kenaikan harga daging ayam karena permintaan yang tinggi, terlebih sekarang wisata tinggi kembali.

"Sudah pasti itu mah. Jadi, ayam goreng sareng lalab bonteng teh nuju naek kitu, kelihatannya kalau saya cek ke hulu di daerah Jawa Jawa Barat bagian timur itu sampai ke arah selatan, suplai ayamnya aman-aman aja. Cuman memang permintaannya yang tiba-tiba meninggi terutama di masa liburan ini. Nah, sayuran sih rata-rata ya karena memang panen lagi bagus. Beras sendiri kalau menurut perkiraan itu akan terjadi panen sekitar bulan Agustus September. Nah, setelah itu kan masuk musim hujan. Nah, itu enggak ada masa tanam kan? Persiapan aja. Nanti di Oktober baru ada masa tanam lagi. Jadi, kelihatannya eh dilihat dari siklus beras kelihatannya nih, saya kan bukan petani, bukan ahli," bebernya.***