POJOKSATU.ID – Pembangunan Giant Sea Wall (GSW) sebagai bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di Teluk Jakarta dinilai tidak akan mampu menghentikan banjir yang berasal dari sungai.

Hal ini disampaikan oleh para akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam Focused Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Forum Guru Besar (FGB) ITB bersama Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB.

Dalam diskusi yang berlangsung di Ruangan Alumni Sipil (ALSI) ITB Kampus Ganesha tersebut, pakar Teknik Sumber Daya Air, Prof. Ir. Dantje Kardana Natakusumah, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa meskipun GSW dapat menahan banjir dari laut, proyek ini tidak dirancang untuk menangani banjir yang bersumber dari sungai.

Baca Juga: Erdogan Datang ke Bogor, Alumni Turki Dorong Penguatan Kemitraan Strategis, Ini Tujuh Poin Pernyataan Mereka 

Selain itu, pendekatan pengendalian banjir yang diterapkan dianggap tidak konvensional dan belum teruji, sehingga berpotensi menimbulkan beban hidrolik berlebihan pada waduk pantai.

"Giant Sea Wall tidak dapat menghentikan banjir yang berasal dari sungai. Kalau dari laut, iya," ujar Prof. Dantje.

Ia juga menyoroti biaya tinggi untuk pengerukan sedimen secara berkala di reservoir waduk pantai.

Pakar Teknik Pantai, Prof. Ir. Andojo Wurjanto, Ph.D., dalam paparannya menjelaskan bahwa pembangunan Giant Sea Wall didorong oleh semakin banyaknya daerah yang mengalami penurunan muka tanah, terutama di Jakarta, Semarang, dan Pekalongan.

Ia menekankan bahwa integrasi waduk pantai dengan tanggul lepas pantai dapat menjadi solusi, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah.

Baca Juga: Mensos Gus Ipul: Jangan Lupa Ambil Kado Ulang Tahun dari Negara!

"Ke depan, kita tidak boleh lagi mengambil air tanah. Maka, waduk air tawar di pantai menjadi solusi," ungkapnya.

Dampak lingkungan juga menjadi sorotan dalam diskusi ini. Pakar Rekayasa Air dan Limbah Cair, Prof. Ir. Erwan Kardena, Ph.D., mengungkapkan bahwa seluruh sungai di Jakarta saat ini telah tercemar berat.

Ia menilai sistem pengelolaan air limbah di Jakarta masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Asia Tenggara.

"Trennya semakin buruk. Jika dibandingkan dengan Bandung atau Semarang saja, Jakarta masih sangat tertinggal dalam pengelolaan air limbah," tegasnya.

Baca Juga: UPDATE TERBARU! Percepatan Penyaluran Transfer TPG Dan Bantuan Guru Honorer Dari Kemendikdasmen!

Ia juga menyoroti potensi daur ulang air limbah sebagai sumber air alternatif, namun hal ini hanya dapat dilakukan jika pengelolaan limbah menerapkan pendekatan yang lebih baik, mulai dari pemisahan limbah di awal hingga regulasi dan pricing yang mendukung..***