POJOKSATU.ID – Konsep ekonomi sirkular berbasis energi panas bumi kini terbukti mampu mendorong transformasi pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kamojang, Kabupaten Bandung.

Lewat pemanfaatan uap panas dari pembangkit listrik tenaga panas bumi, kawasan ini menjadi contoh nyata integrasi energi bersih dengan pertumbuhan ekonomi lokal.

Sebagai daerah penghasil kopi arabika unggulan, Kamojang selama ini menghadapi tantangan klasik seperti ketergantungan pada pupuk kimia, kegagalan pengeringan pascapanen di musim hujan, serta limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: PLN Masuk Fortune Global 500, Buka Jalan Indonesia Jadi Pemain Utama Dunia

Namun sejak diterapkannya pendekatan ekonomi sirkular, potensi lokal berhasil dikembangkan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) melalui dua inovasi Utama Geothermal Coffee Process (GCP) dan Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert) mengintegrasikan energi bersih ke dalam sektor pertanian.

Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan limbah dan energi panas bumi untuk mendukung proses produksi yang lebih efisien, hemat biaya, dan rendah emisi.

Baca Juga: Besok Hari Terakhir! Diskon 30 Persen Tiket KA Ekonomi Non Subsidi Segera Berakhir

“Energi bersih bukan hanya soal listrik. Ia harus bisa menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung, memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal,” ujar Direktur Utama PGE, Julfi Hadi.

GCP memanfaatkan uap buangan dari pembangkit panas bumi untuk mempercepat proses pengeringan kopi dari 30–45 hari menjadi hanya 3–10 hari.

Sementara GeO-Fert mengubah limbah pertanian dan rumah tangga menjadi pupuk organik melalui proses fermentasi termal dengan suhu 60–70°C.

Baca Juga: Risyad-Patra Terpilih Aklamasi, Siap Satukan Kembali GMNI dari Bandung

Dalam setahun, sistem ini mampu menghasilkan hampir 30 ton pupuk organik yang kini digunakan oleh lebih dari 160 petani.

Hasilnya, pendapatan dari kopi meningkat signifikan. Produksi naik enam kali lipat, dari 5 kuintal (2018) menjadi 30 ton (2024).

Nilai penjualan green bean melonjak dari Rp250 juta menjadi Rp560 juta, sedangkan roasted bean meningkat dari Rp120 juta menjadi Rp180 juta.

Baca Juga: Begini Solusi Atasi Stress Yang Seringkali Terjadi Di Dunia Pekerjaan

Secara keseluruhan, petani merasakan peningkatan pendapatan bersamaan dengan penurunan biaya produksi.

Tak hanya berdampak ekonomi, program ini juga memberikan kontribusi pada aspek lingkungan dan sosial.

Berdasarkan analisis Social Return on Investment (SROI) yang dilakukan UGM, program ini mencatat rasio 3,13, artinya setiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan dampak sosial dan ekonomi sebesar Rp3,13.

Baca Juga: Kapan Pendaftaran KPL Pusdiklatnas 2025 Dibuka? Cek Kuota dan Syarat Lengkapnya

Total nilai manfaatnya mencapai Rp367,5 juta per tahun dan diproyeksikan menembus Rp6,3 miliar di masa depan.

Selain itu, program ini juga berhasil mengurangi emisi karbon hingga 20.000 ton CO₂ per tahun dan mendaur ulang lebih dari 1,2 ton sampah organik.

Dengan prinsip zero waste, zero emission, dan zero conflict, inisiatif ini menjadi model ekonomi sirkular berbasis komunitas yang dinilai berhasil secara konkret.

PGE sendiri telah menerima berbagai penghargaan atas program ini, termasuk ASEAN Renewable Energy Awards, PROPER Emas dari Kementerian LHK, dan Platinum Champion BISRA 2024.

Baca Juga: Hendra Wijaya Resmi Pimpin LPM Plawad, Siap Sinergi Bangun Wilayah Demi Karawang Maju dan Asta Cita Presiden

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Ke depan, program ini akan direplikasi ke wilayah kerja panas bumi lain sebagai bagian dari visi besar perusahaan dalam mendukung transisi energi yang adil dan inklusif. ***