POJOKSATU.ID - Menaggapi pernyataan kontroversi Rocky Gerung yang viral di media sosial dan berujung pada pelaporan kepada polisi.

Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Unjani yang akrab disapa Wagoen menganalisa bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan Rocky Gerung tersandung dan dianggap menyerang presiden.

Wagoen menilai bahwa Rocky Gerung salah seorang yang terlalu mendewakan logika berfikirnya, padahal dalam kehidupan, selain logika berfikir, kaidah sosial juga berperan sangat penting.

Baca Juga: Moeldoko Pasang Badan ke Jokowi, Rocky Gerung : Saya Biasa Pertaruhkan Nyawa di Medan Perang tanpa Kalkulasi

"Jadi Rocky Gerung terlalu mendewakan logika padahal benar menurut logika belum tentu benar menurut kaidah sosial," terang Wagoen, Jumat 4 Agustus 2023.

"Saya mau beranalogi dulu, anak kecil diajarkan berhitung 1 sampai dengan 10, maka secara logika tidak salah kalau sang anak merasa benar kalau setelah sembilanratus maka selanjutnya sepuluhratus. Sang anak tidak mengerti bahwa logika itu menjadi batal oleh rumus (hukum) matematika bahwa menurut hukum matematika setelah sembilanratus adalah seribu, bukan sepuluhratus walau setelah sembilan ya sepuluh," papar Wagoen melalui pesan masangernya.

Menurut Wagoen, Rocky Gerung juga sudah melanggar apa yang sering ia ungkapkan sendiri terkait etik, bahkan dirinya menilai apa yang dilakukan Rocky Gerung melalui pemikiran filsafatnya sudah kebablasan.

Baca Juga: Pengamat Nilai Usulan Nama Prof Keri Untuk Jadi Pj Gubernur Jabar Diragukan Netralitasnya

"ia lupa bahwa disamping pedal gas ada pedal rem, filsafat rem gak pernah dipake oleh RGocky Gerung Kebebasan tidak pernah ada yang absolut. Kebebasan tanpa ketertiban adalah barbar sedangkan ketertiban tanpa kebebasan adalah basa basi," ujar Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Unjani tersebut.

Selain itu, Wagoen juga menyimpulkan bahwa Rocky Gerung selama ini sebetulnya berargumen hanya berdasarkan katanya, katanya menurut cerita filsafat, katanya menurut mitologi, kataya menurut buku, katanya menurut nalar, nalar yang dianggap telah kebablasan.

"Semua itu hanya katanya.Ya kalau sebatas tidak menyerang atau menyalahkan siapapun ya tidak apa-apa, Rocky Gerung korban katanya tapi kalau sudah lupa batas-batas nalar lalu menganggap hanya argumentasinya yang benar berati Rocky Gerung sedang memberhalakan dan menunggalkan kebenaran padahal kebenaran tidak pernah bisa ditunggalkan tidak mungkin menjadi satu.

Logika tanpa hati nurani atau ketika logika dipisahkan dengan hati nurani maka satu opini atau sebuah argumen bisa menyesatkan," tutupnya.***