POJOKSATU.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menanggapi hasil survei kemacetan dari TomTom Traffic Index yang menempatkan Bandung sebagai kota termacet di Indonesia.

Farhan mengaku baru pertama kali mendengar nama lembaga survei tersebut, namun menyambut positif keberadaan dan data yang disampaikan.

“Yang pertama tentu saja saya menghargai bahwa ada sebuah lembaga survei yang bernama TomTom. Survei itu saya baru dengar, tapi kalau memang ini lembaga internasional, saya sangat ingin mengundang mereka ke Bandung untuk memaparkan hasil surveinya,” ujar Farhan.

Baca Juga: Pertamina Regional JBB Tanggap Banjir Cawang, Salurkan Bantuan Sembako untuk Ratusan Warga

Menurut data TomTom Traffic Index, rata-rata waktu tempuh perjalanan sejauh 10 kilometer di Kota Bandung mencapai 33 menit.

Farhan mengakui kemacetan menjadi masalah serius yang harus ditangani dengan pendekatan berbasis data. Ia menyebut hingga saat ini Pemkot Bandung masih mencoba melacak siapa pengelola lembaga survei tersebut.

“Sampai sekarang saya belum ketemu siapa pengelola TomTom ini. Tapi kalau ada, saya ingin undang mereka untuk presentasi data yang mereka miliki. Kalau itu bisa jadi biodata mobilitas, akan sangat berguna untuk pendataan dan pengambilan kebijakan,” tegasnya.

Baca Juga: CAIR Sejak AWAL JULI, TPG Guru Kemenag di Daerah Ini MASIH PENDING, TUKIN Naik Hingga 80 Persen, Cek Penjelasan Ini

Ia juga memaparkan bahwa dari data yang dimiliki Pemkot, kemacetan paling parah terjadi di Jalan Soekarno Hatta, yang menjadi pintu masuk dari arah barat, selatan, dan timur Bandung.

“Macetnya dari pukul 6 pagi sampai pukul 10, lalu mulai lagi dari pukul 4 sore sampai pukul 8 malam. Ini sudah jadi rutinitas,” katanya.

Namun, Farhan juga mencatat adanya pola kemacetan yang berbeda di tiga titik lainnya: Jalan Ir. H. Juanda, Sukajadi, dan Setiabudi.

Baca Juga: Polisi Ungkap Temuan Baru di Lokasi Tewasnya Arya Daru Pangayunan, Selain Lilitan Lakban Ternyata Ditemukan Bukti Ini

Ketiga jalur ke arah utara Bandung ini, menurutnya, hanya mengalami kepadatan dari pukul 16.00-20.00, tanpa kemacetan berarti di pagi hari.

“Ini menarik. Ada perilaku mobilitas warga Bandung yang khas. Tapi datanya belum lengkap, jadi kita masih banyak asumsi,” jelasnya.

Ia menyebut pentingnya kolaborasi dengan berbagai untuk memahami perilaku transportasi masyarakat secara lebih mendalam.

“Kalau bisa ketemu dengan TomTom ini, saya undang secara terbuka. Kita kerja sama antara Pemerintah Kota dengan lembaga tersebut untuk mengurangi kemacetan. Siapa tahu ini bisa jadi bagian dari sistem digital, bahkan big data dan Blockchain,” kata Farhan.

Baca Juga: Pelatihan MOOC Pintar, Bangun Komunitas Guru Kolaboratif lewat Lesson Study, Ini Contoh Soal dan Kuci Jawabannya

Menurutnya, Kota Bandung harus terbuka terhadap kerja sama teknologi berbasis data demi meningkatkan kualitas hidup warganya.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

“Sudah saatnya Kota Bandung terbuka terhadap berbagai macam bentuk kerja sama, khususnya dalam platform teknologi digital salah satunya untuk mengatasi kemacetan,” ungkapnya.