POJOKSATU.ID – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Kota Bandung, dengan 1.653 kasus dan empat kematian tercatat sepanjang tahun 2025.

Wakil Wali Kota Bandung, Erwin menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mengintensifkan berbagai upaya pencegahan melalui kolaborasi masyarakat, edukasi, pemberdayaan, dan penerapan teknologi ramah lingkungan.

Erwin menjelaskan bahwa program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Plus menjadi pilar utama untuk memutus rantai penyebaran nyamuk Aedes aegypti, vektor virus DBD.

"Kami ingin pendekatannya bukan hanya sektoral, tapi ekosentris semua unsur masyarakat, mulai dari RT, RW, kader kesehatan, hingga perangkat wilayah harus bergerak bersama," ujarnya.

 

Baca Juga: 7 Kunci Postur Berkendara Aman: Cegah Lelah, Hindari Kecelakaan di Jalan!

Upaya PSN Plus ini mencakup kampanye "Jumat 10 Menit", yakni kebiasaan rutin membersihkan lingkungan rumah setiap Jumat selama 10 menit. Pemkot Bandung juga mengembangkan program "Satu Rumah Satu Jumantik", di mana setiap rumah memiliki Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk pemeriksaan tempat penampungan air secara berkala.

Selain itu, Pemkot Bandung telah menerapkan teknologi biologis Wolbachia, bakteri alami yang disuntikkan ke nyamuk jantan untuk menghambat reproduksi nyamuk penyebar virus DBD.

Uji coba awal di Kecamatan Ujungberung berhasil menurunkan potensi kasus, sehingga kini diperluas ke kecamatan lain seperti Kiaracondong.

"Di Ujungberung, program ini sudah sukses. Sekarang kita ekspansi ke wilayah padat penduduk seperti Kiaracondong, karena di sana banyak saluran air dan genangan yang jadi tempat bersarang nyamuk," terang Erwin.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada edukasi dan penerimaan masyarakat. Ia menyayangkan masih adanya warga yang melakukan fogging sendiri tanpa takaran dan prosedur yang tepat.

Baca Juga: Jawa Barat Canangkan Diri sebagai Pelopor Budidaya Bambu Nasional

 

"Penyemprotan itu harus serentak dan menyeluruh, tidak boleh setengah-setengah. Kalau satu rumah menolak disemprot, ya nyamuknya lari ke sana. Itu tidak efektif," jelasnya.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Pemkot Bandung berharap masyarakat melaporkan lokasi rawan DBD dan sampah liar yang menjadi sarang nyamuk agar segera ditindaklanjuti. Masyarakat juga diimbau untuk terus menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, dan melaporkan titik-titik genangan serta TPS liar yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

"Kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Kita ingin Bandung keluar dari status endemis. Hari ini merah, insyaallah ke depan tidak merah lagi," tutur Sony.***