POJOKSATU.id, Kota Bandung - Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung Andri Rusmana mengatakan
pembangunan Bandung Rapid Transportation (BRT) dan penataan trotoar jangan sampai mengorbankan aktivitas dan mobilitas masyarakat secara berlebihan.

Kendati demikian pembangunan tersebut merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki transportasi publik dan ruang di Kota Bandung.

"Kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas akibat pengerjaan secara bersamaan harus menjadi perhatian serius. Pemerintah Kota bersama pelaksana proyek perlu memastikan manajemen rekayasa lalu lintas, pengaturan waktu pekerjaan, serta percepatan penyelesaian di titik-titik yang paling berdampak terhadap kemacetan," ujar Andri.

Baca Juga: Satu Kapal, Dua Kasus Narkoba? BNN Bongkar Jejak MV Ocean Porter Bawa 2,6 Ton Sabu Cair

DPRD kata dia mendukung pembangunan BRT dan trotoar karena manfaat jangka panjangnya penting bagi Kota Bandung, tetapi selama proses pembangunan, hak masyarakat untuk tetap dapat beraktivitas dengan aman, nyaman, dan lancar juga harus dijaga, jangan sampai niat baik membangun kota justru menimbulkan beban yang berkepanjangan bagi masyarakat.

Lanjutnya, pembangunan harus terukur, terkoordinasi, dan yang paling penting masyarakat harus merasakan bahwa ketidaknyamanan hari ini benar-benar sebanding dengan manfaat yang akan mereka dapatkan nanti.

Sementara itu hasil monitoring ke sejumlah titik BRT, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku sudah mendapatkan laporan tertulis. Bahkan keluhan-keluhan mengenai kemacetan sudah terdeteksi sejak 14 Agustus yang lalu.

Baca Juga: GrabAcademy Resmi Diluncurkan, Ini 5 Jalur Pengembangan untuk Mitra Grab

"Ada satu konten yang menunjukkan kondisi yang berantakan. Salah satu alasan dari para kontraktor adalah karena kerangka besinya dicuri. Tetapi buat saya, itu bukan alasan. Yang paling penting adalah bagaimana BRT ini harus betul-betul membuktikan bersama-sama bahwa BRT memberikan manfaat untuk warga Bandung," tegasnya.

Farhan memohon maaf pada warga terdampak macet akibat pembangunan BRT tersebut.

"Ini masih dipersepsikan dengan sangat negatif di mata warga Bandung. Untuk itu, saya berkomitmen sebagai Wali Kota untuk bekerja keras bersama-sama dengan pihak BRT, memastikan bahwa proses perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan BRT ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi seluruh warga Kota Bandung," tuturnya mengulang.

Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Perkuat 30,85 Km Rel, 1.074 Titik Sambungan Dilas Flashbutt

Farhan juga menyebutkan saat ini sedang dibereskan oleh Dinas Perhubungan sebagai leading sector-nya. Selain itu beberapa jalur trotoar pun sedang dibereskan.

"Yang paling menantang adalah bagian yang membuat kemacetan. Dimana bukan hanya jalur trotoar yang sedang diperbaiki, tetapi juga jalur median yang sedang dikerjakan. Jangan sampai pengerjaan ini membuat kemacetan. Saya mohon maaf sekali karena pekerjaan ini menimbulkan kemacetan. Tetapi saya akan memastikan pengerjaannya dilakukan dengan cepat, rapi, dan tidak menimbulkan kecelakaan," tegasnya.

Target penyelesaian BRT sendiri sekitar dua tahun yang akan datang. September 2027 BRT akan beroperasi penuh tanpa konstruksi.

Baca Juga: Viral Sungai Barito Kering, BMKG Ungkap Tiga Penyebabnya, Tak Ada Dikaitkan Penebangan Hutan

Termasuk pengaturan lalu lintas, khususnya di jalur dedicated lane, yaitu jalur dengan separator khusus untuk bus yang akan melewati jalur tersebut.

Farhan pun menyampaikan rute dedicated lane BRT dimulai dari Alun-Alun menuju ke arah barat, kemudian melalui Sudirman sampai ke Rajawali.

Dari Rajawali masuk sampai ke stasiun. Dari stasiun belok kanan ke arah Otista, kemudian sampai ke Tegalega.Dari Tegalega naik lagi ke utara sampai ke Alun-Alun.

Baca Juga: Uang Rp665 Juta Jadi Jejak OTT KPK Unsoed, Rektor Akhmad Sodiq Kini Tersangka

Dari Alun-Alun, jalur berikutnya belok kanan ke Surniaraja atau Banceuy, kemudian masuk terus sampai ke Ahmad Yani. Ahmad Yani lurus terus sampai ke arah Kiaracondong.

Di Kiaracondong melakukan putar balik, kemudian masuk lagi ke Jalan Jakarta, Ahmad Yani, lurus lagi sampai ke Simpang Lima, Asia Afrika, dan bertemu kembali di Alun-Alun. Itu merupakan jalur BRT Barat, Selatan, dan Timur.

Terkait keluhan masyarakat soal kemacetan di berapa titik, Farhan menghimbau agar melapor melalui 112 atau melalui media sosial.

Baca Juga: Latihan Soal Final OSN Cabang Kompetisi Fisika Jenjang SMA Sederajat 2026, Materi dari Kumpulan Soal Puspresnas

"Teman-teman wartawan silakan mengawasi. Kita akan bersama-sama merespons berbagai macam kekurangan yang ada. Selama ini kami juga membutuhkan banyak sekali bantuan dari masyarakat untuk menjadi, dalam tanda kutip, mata-mata kami, untuk betul-betul memastikan bahwa pembangunan BRT ini memberikan manfaat untuk semua orang. Mimpi berikutnya adalah LRT nanti akan agak mirip seperti kereta gantung. Kalau busnya nanti lebih kecil sedikit," tutupnya.***