POJOKSATU.ID – Dari Bandung untuk dunia, Bio Farma terus menunjukkan perannya sebagai pemain utama dalam industri vaksin global.
Dengan kapasitas produksi lebih dari 3,5 miliar dosis per tahun, perusahaan pelat merah ini telah menyalurkan vaksin ke lebih dari 150 negara dan memiliki 12 produk bersertifikasi WHO Prequalification.
Tak hanya itu, Bio Farma juga dipercaya sebagai Center of Excellence Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk pengembangan, produksi, dan distribusi vaksin.
Penunjukan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai bagian dari solusi global dalam mewujudkan akses vaksin yang merata dan berkeadilan.
Melalui semangat kolaborasi, inovasi, dan berbagi pengetahuan, Bio Farma membuktikan bahwa negara berkembang mampu menghasilkan inovasi berkelas dunia sekaligus menjadi pemimpin dalam menciptakan perubahan positif bagi umat manusia.
Penyelenggaraan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network Annual General Meeting (DCVMN AGM) di Indonesia menjadi bukti nyata kemandirian bangsa dalam industri kesehatan.
Baca Juga: Jangan Sampai Salah Pilih! Inilah Jenis Sunscreen yang Sesuai Tipe Kulitmu
"Forum ini bukan hanya ajang pertemuan, tapi langkah konkret menuju dunia yang lebih sehat, tangguh, dan inklusif," ucap Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya saat konferensi pers.
Shadiq Akasyaa bercerita perjalanan Indonesia bersama DCVMN telah berlangsung lebih dari dua dekade.
Sejak pendirian DCVMN di Noordwijk, Belanda, pada tahun 2000, Bio Farma menjadi salah satu dari 10 anggota pendiri yang membentuk pondasi kolaborasi global negara berkembang di bidang vaksin.
"Peran Bio Farma di DCVMN bukan sekadar simbol representasi nasional, tetapi merupakan kontribusi nyata Indonesia bagi ketahanan kesehatan global," jelasnya.
Melalui berbagai inisiatif kolaboratif, Bio Farma terus menunjukkan komitmennya untuk memperkuat kapasitas riset dan produksi vaksin di negara-negara berkembang.
Beberapa kontribusi penting Bio Farma di DCVMN antara lain:
Baca Juga: Melda Safitri Buka Semuanya di Podcast Densu, Untuk Makan Saja Dia Bahkan Harus Ketok Rumah Tetangga
- Transfer Teknologi Vaksin Pentavalen (DPT-HepB-Hib)Pada tahun 2004, Bio Farma berkolaborasi dengan Netherlands Vaccine Institute dalam program transfer teknologi untuk produksi vaksin DPT-HepB-Hib atau Pentavalen.
- Pada periode 2023–2025, Bio Farma dipercaya menjadi Chair of the Board DCVMN, menjadikan Indonesia sebagai jembatan antara anggota jejaring dan arah strategis global.
- Tahun 2020 menjadi tonggak sejarah bagi Bio Farma saat vaksin nOPV2 produksinya menjadi vaksin pertama di dunia yang memperoleh Emergency Use Listing (EUL) dari WHO.
- Rekomendasi ini menjadi langkah penting dalam sejarah kesehatan global karena membuka jalan bagi percepatan penggunaan vaksin yang belum berlisensi dalam situasi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
"Keberhasilan ini bukan hanya menunjukkan keunggulan teknis dan ilmiah Bio Farma, tetapi juga mencerminkan kemampuan koordinasi lintas pemangku kepentingan, mulai dari penyandang dana, ilmuwan, akademisi, pembuat kebijakan, hingga produsen vaksin," ungkapnya.
Ia menjelaskan, sinergi tersebut memungkinkan percepatan pengembangan, peluncuran, dan distribusi vaksin nOPV2 di tengah situasi darurat kesehatan dunia.
"Inovasi ini kini menjadi inspirasi bagi anggota DCVMN lainnya untuk memperkuat kapasitas riset, pengembangan, dan produksi vaksin berdaya saing global, guna mewujudkan kemandirian vaksin dan ketahanan kesehatan di negara-negara berkembang," jelasnya. ***



