POJOKSATU.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat menegaskan pentingnya mendorong permintaan domestik untuk mempercepat pemulihan ekonomi regional pada akhir 2025.
Hal ini disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Upaya Mengakselerasi Pertumbuhan Penjualan Properti dan Kendaraan Bermotor serta Aktivitas Pariwisata di Jawa Barat”, yang mempertemukan otoritas moneter, regulator keuangan, pemerintah daerah, hingga pelaku industri.
Forum ini dihadiri jajaran strategis, mulai dari Kepala Perwakilan BI Jabar, Direktur OJK Jabar, Plt Kepala BPS Jabar, perangkat dinas terkait, Bappeda, asosiasi industri, perbankan, hingga pelaku usaha properti dan pariwisata.
Baca Juga: Bocah 10 Tahun di Samarinda Diduga Jadi Korban Kekerasan, Kakinya Patah Usai Dibanting Teman
Diskusi diarahkan untuk menilai daya dorong sektor-sektor konsumsi yang menjadi motor pemulihan ekonomi Jawa Barat.
Kepala Perwakilan BI Jabar, Muhamad Nur, menyebut percepatan ekonomi Jawa Barat pada akhir 2025 sangat bergantung pada penguatan permintaan di tiga sektor strategis: properti, kendaraan bermotor, dan pariwisata.
Ketiganya dinilai memiliki rantai dampak ekonomi yang panjang dari industri material bangunan, manufaktur otomotif, sampai jasa perjalanan, perhotelan, dan MICE.
BI mencatat sinyal positif konsumsi rumah tangga terus menguat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimistis, meningkat menjadi 116,36 pada awal triwulan IV 2025.
Indeks Penjualan Riil (IPR) juga diproyeksikan naik ke 138,20, mengindikasikan peningkatan belanja masyarakat menjelang momentum Natal dan Tahun Baru.
Menurut BI, tren konsumsi ini menjadi modal penting untuk menggerakkan pasar properti yang sempat tertahan, mempercepat penjualan kendaraan bermotor, serta memperluas belanja wisatawan domestik.
Baca Juga: Menguak Statistik BPS, Provinsi Mana Saja Punya Indeks Literasi Terendah di 2024-2025?
Plt Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menegaskan pola musiman di triwulan II dan IV secara konsisten meningkatkan mobilitas masyarakat.
Lonjakan wisatawan pada periode tersebut disebut langsung mengalir ke berbagai subsektor, termasuk transportasi, akomodasi, kuliner, dan UMKM.
"Setiap peningkatan wisatawan langsung mengalir ke sektor transportasi, akomodasi, kuliner, hingga UMKM. Inilah multiplier yang perlu kita maksimalkan," ujarnya.
Baca Juga: Kejari Jakbar Eksekusi Terpidana Wijanto Tirtasana ke Lapas Cipinang
Darwis juga menekankan pentingnya penyempurnaan reporting channel agar data yang masuk ke pemerintah semakin presisi dan dapat digunakan untuk menyusun kebijakan yang responsif terhadap dinamika sektor riil. ***



