POJOKSATU.id, Kota Bandung - Oh inikah sabana itu?
Tapak megah rona semesta
Kucumbu indahmu Merbabu
Kupeluk hangatmu Merbabu
Kau mempesonaku Merbabu
Aku luluh
Adi mengaku sempat menitikkan air mata saat membawakan lagu tersebut langsung di puncak Gunung Merbabu dengan ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Saya ini punya fobia ketinggian. Tapi saat di atas, saya menangis. Rasa capek dan lelah terbayar. Bahkan sempat diminta turun karena harus dibantu napas, tapi saya pantang menyerah,” ujarnya di Arei Flagship Store, Cihampelas, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026).
Menurut Adi, menyanyikan lagu harus dengan penghayatan agar pesan yang disampaikan bisa dirasakan pendengar.
Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa rasa cinta tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk alam.
Adi pun optimistis lagu “Merbabu” bisa diterima luas di pasar musik Indonesia.
Ia mengaku telah mengerahkan seluruh kemampuan dan pengalamannya dalam menggarap lagu tersebut.
“Saya sudah mengeluarkan semua energi dan ilmu bermusik untuk lagu ini,” katanya.
Sementara itu, penulis lirik Dwi Januanto Nugroho mengungkapkan bahwa lagu ini terinspirasi dari kegemarannya mendaki gunung.
Ide tersebut muncul setelah dirinya mendaki Gunung Rinjani, lalu berlanjut ke Gunung Merbabu.
“Sepanjang perjalanan ke Merbabu, kalimat-kalimat itu muncul begitu saja,” ujarnya.
Ia juga mengaku puas dengan aransemen lagu tersebut.
Bahkan, ia memiliki gagasan untuk menghadirkan proyek lagu bertema gunung yang lebih luas.
Lebih dari sekadar karya seni, lagu ini juga menjadi bagian dari upaya mempromosikan Taman Nasional Gunung Merbabu serta menanamkan nilai pelestarian alam kepada masyarakat.
Kolaborasi ini turut melibatkan Arei Outdoor Gear sebagai mitra.
Perusahaan perlengkapan outdoor tersebut menegaskan komitmennya dalam mendukung keselamatan dan kenyamanan para pendaki.
Perwakilan Arei, Byran Peter Budijonto, mengatakan pihaknya terus berupaya menghadirkan fasilitas pendukung, seperti pembangunan shelter yang dilengkapi perlengkapan darurat dan dukungan ranger setempat.
“Dalam kondisi darurat, pendaki bisa mendapat perlindungan. Pernah saat terjadi badai di Merbabu, ratusan pendaki berhasil diselamatkan di shelter,” jelasnya.
Ke depan, Arei ingin membangun ekosistem pendakian yang lebih aman dan nyaman melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kehutanan.
Selain itu, Arei juga terus meningkatkan kualitas produknya, mulai dari bahan yang nyaman digunakan hingga ketahanan terhadap berbagai kondisi cuaca ekstrem.
Melalui lagu “Merbabu”, Byran berharap masyarakat semakin terdorong untuk mengenal dunia pendakian, bukan sekadar mengikuti tren, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga alam.
“Pendakian bukan hanya soal ikut-ikutan, tapi bagaimana kita menghargai alam dan menjaga diri,” pungkasnya.




