POJOKSATU.id, Kota Bandung - Pengangkutan sampah di Kota Bandung diprediksi hanya bisa sampai bulan Oktober kendati ada pengurangan jumlah ritase.
Menurut Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, anggaran pengangkutan sampah hanya bertahan sampai bulan November.
"Gini, kalau kita mengurangi jumlah ritase maka dengan anggaran sekarang kita hanya bisa ngangkut sampai bulan November, jadi terakhir ngankut akhir Oktober ini. Awal November kita udah gak punya uang. Untuk secara teori ya awal November kita sudah tidak punya anggaran lagi untuk ngangkut," tegas Farhan di pendopo, Jumat 24 April 2026.
Karena itu, pemkot Bandung harus memikirkan cara, strategi, apa yang harus dilakukan.
"Harus melakukan efisiensi atau kah kita melakukan perubahan anggaran atau kah kita akan menyusun strategi yang baru, makanya hari ini kami akan rapat dengan kementerian LH untuk menyusun roadmap strategi agar dibulan Desember kita betul-betul mampu tidak ada lagi pembuangan ke TPA," tegasnya.
Masih kata Farhan harga BBM saat ini naik signifikan.
Dan itu berdampak pada pengangkutan karena biaya truk pengangkutan sampah sendiri saat ini menggunakan bahan bakar solar non subsidi.
Dari harga 14.000 an menjadi 23.000 an sehingga naik 9 000 per liter artinya biaya BBM untuk pengangkutan sampah itu naik dua kali lipat. Sehingga harus memikirkan sebuah cara untuk bisa memastikan efektivitasnya berjalan dengan baik.
Pada saat bersamaan, kata Farhan, ia pun menyadari bahwa kesepakatan kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti itu mulai dikurangi sedikit demi sedikit.
"Maka saya hari ini akan ke Jakarta bertemu dengan kementerian LH, menyusun road map yang lebih pasti agar diakhir tahun 2026 sesuai dengan rencana pemerintah pusat tidak ada lagi open dumping, tidak ada lagi TPA, nah ini kita susun dari sekarang mumpung masih punya waktu sekitar 6 bulan agar diakhir tahun kita sudah tidak ke TPA lagi," paparnya.
Farhan menargetkan, bahwa secara operasional diakhir bulan Mei sudah bisa menambah pengelola sampah di hulu antara 100-200 ton per hari atau dari total 1.800 baru terolah 300 ditambah nanti 200 ton berarti bisa mengelola 500 ton.
Berarti masih sisa 1.300 ton lagi harus dikelola.
Terkait truk menginap di TPA Sarimukti sendiri kata Farhan lebih ke kondisi kepadatan disana.
Hal itu karena ada pengurangan kuota.
"Dan yang membawa ke TPA kan bukan hanya kota Bandung tapi kabupaten Bandung Barat dan kabupaten Bandung dari kota Cimahi juga harus mengantri, antrian ini jadi lebih panjang aja, minimal tiga truk, yang saya tahu segitu," tukasnya.



