Mucikari Gigolo Timur Tengah Pemuas Janda Tajir Diringkus di Apartemen

Kanit Jatanras Polresta Barelang Iptu Afuza menginterogasi Bonny Syahrio (kiri) dan Sarah di Mapolresta Barelang, Sabtu (10/9). Foto via Batam Pos

Kanit Jatanras Polresta Barelang Iptu Afuza menginterogasi Bonny Syahrio (kiri) dan Sarah di Mapolresta Barelang, Sabtu (10/9). Foto via Batam Pos

POJOKSATU.id, BATAM – kepolisian berhasil meringkus Bonny Syahrio, muncikari yang menjual para pemuda asal Timur Tengah jadi gigolo pemuas birahi janda tajir.

Penjual pemuda imigran yang tengah mencari suaka itu diringkus di salah satu apartemen kawasan Nagoya, Sabtu dini hari (10/9.

Selain Bonny, aparat Satreskrim Polresta Barelang juga menciduk janda tajir penikmat jasa gigolo.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Memo Ardian mengatakan, para tersangka diamankan di salah satu apartemen kawasan Nagoya.

Para tersangka terlibat dalam praktik prostitusi yang melibatkan imigran di bawah umur bernama Jhansen.

“Muncikarinya mendapatkan bayaran dari penggunanya. Dan imigran ini (gigolo) masih di bawah umur,” ujar Memo kepada Batam Pos (Jawa Pos Group), di Mapolresta Barelang, Sabtu (10/9).

Memo menjelaskan Bonny sengaja memanfaatkan Jhansen untuk mendapatkan uang. Bonny meminta uang Rp 20 juta untuk pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia.

“Akhirnya Bonny mengenalkan Jhansen ke wanita. Tujuannya untuk mendapatkan uang mengurus KTP,” terangnya.

Dalam praktik prostitusi ini, Bonny mendapatkan bayaran Rp 2 juta dari Sarah. Sementara, Sarah memberikan bayaran kepada Jhansen Rp 1 juta dalam sekali berhubungan intim.

“Nah, untuk jumlah uang yang dikirimkan ke Bonny masih dalam pemeriksaan,” tegasnya.

Memo mengaku sudah memeriksa tiga dari sepuluh orang imigran yang diamankan petugas Imigrasi.  Dari pemeriksaan itu, para imigran baru berencana melakukan praktik prostitusi tersebut.

“Modus operandi mereka fitnes di salah satu apartemen. Dan berharap di lokasi itu mendapatkan pertemanan dan pelanggan,” terangnya.

(opi/ska/iil/jpg/pojoksatu)

Feeds