Perguruan Tinggi Ditantang untuk Optimalkan Sumber Daya Maritim

Menristek Dikti Mohamad Nasir

Menristek Dikti Mohamad Nasir

POJOKSATU.id – Indonesia yang memiliki sumber daya laut yang luas memiliki potensi yang luas dalam dunia maritim. Hanya saja potensi itu belum dioptimalkan dengan baik.

Mengetahui fenomena itu, Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menantang perguruan tinggi (PT) di Indonesia, terutama yang berada di wilayah pesisir.

Menurutnya, Aceh, terutama Aceh Barat memiliki potensi pada sektor kelautan dan pertanian yang sangat kaya. Maka dianjurkan untuk menciptakan pengembangan dengan berbagai penelitian. ”Hasil penelitian, harus melahirkan kualitas yang lebih bagus dan unggul,” ungkapnya saat mengisi kuliah umum pada Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Minggu (5/11).

Lebih jauh dia menuturkan, saat ini pola pengembangan sektor kemaritiman di Indonesia perlu didorong melalui sejumlah penelitian akademisi perguruan tinggi. Kelak harus melahirkan inovasi baru dari hasil riset. “Tentu jika hasilnya diaplikasikan oleh industri dunia usaha, akan sangat bagus,” katanya seperti dilansir Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Senin (6/11).

Dia mencontohkan pengembangan budidaya perikanan di lepas pantai. Pengembangan itu tentu masih membutuhkan inovasi sempurna dari peneliti perguruan tinggi. Pengelolaan harus bersifat representatif secara ilmiah, sebab selama ini pengembangan perikanan hanya dominan terkonsentrasi di darat.

Sistem penjualan ekspor perikanan di Indonesia lebih condong memasarkan produk ikan telah mati, padahal telah ada inovasi baru pemasaran ikan masih hidup. “Jual ikan masih gidup, nilainya lebih besar. Di Maluku telah mulai terapkan seperti itu,” katanya.

Proses ekspor ikan di Maluku mulai memenuhi pasar Jepang, Korea, China, hingga Arab Saudi. Ia mengharapkan UTU melihat peluang tersebut, sehingga menciptakan inovasi baru melalui Pusat Riset Kemaritiman Taman Energi Perikanan.

Sektor pertanian, kaji Mohamad, tidak kalah menarik jika UTU juga berperan melakukan pengembangan. Seperti budidaya Talas, kalkulasi Mohamad sangat menjanjikan karena dengan hanya biaya modal Rp 40—60 juta pertahun mampu menghasilkan keuntungan besar mencapai Rp 150 juta per tahun. Di Sulawesi telah terapkan budidaya ini,” katanya.

(iil/ce1/jpc/pojoksatu)



loading...

Feedss