Lima Murid SD Tolak Hormati Bendera Saat Upacara, Ini Alasannya

ilustrasi - upacara bendera

ilustrasi - upacara bendera

POJOKSATU.id – Terkuaknya kasus lima murid SD dari dua sekolah negeri di Tarakan yang enggan menghormati bendera Merah-Putih saat kegiatan upacara bendera, mendapat perhatian dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan.

Kepala Kesbangpol Tarakan Agus Sutanto mengatakan, kelima murid SD tersebut merupakan anak dari pemeluk aliran Saksi-saksi Yehuwa, yang merupakan denominasi Kristen, Milenarian, Restorasionis, yang dahulunya bernama Siswa-Siswa Alkitab. “Aliran ini memang sudah ada secara internasional, dan untuk legal formalnya mereka katakan sudah terdaftar di Dirjen Kristen,” jelasnya.

Namun, kata Agus, aliran ini mendapatkan penolakan keras dari setiap pengurus gereja-gereja di Tarakan, baik itu dari PGI, KWI, maupun BMAG, yang tidak menyetujui keberadaaannya karena dianggap menyimpang.

Adapun ibadah mereka saat ini, dilakukan di rumah serta untuk kitabnya sendiri yakni injil namun berbeda dengan doktrin gereja. “Dari keyakinan yang mereka anut bahwa mereka (Saksi-saksi Yehuwa) menganggap bahwa penghormatan terhadap bendera negara adalah berhala yang dilarang dalam kitab sucinya,” jelasnya.

“Itu merupakan paham mereka, dan keyakinan mereka juga tidak bisa kita campuri, karena mereka ada dasar untuk tidak melakukan itu,” lanjut Agus Sutanto.

Selain itu, murid-murid SD ini bahkan enggan diajarkan oleh guru Kristen saat pelajaran agama di sekolah, dengan alasan berbeda pemahaman. Sehingga para orang tuanya murid-murid ini mencarikan guru sendiri.

Sementara itu, salah satu orang tua murid terkait yang ditemui Radar Tarakan kemarin menuturkan, perlakuan ini merupakan keyakinan mereka. Karena menurutnya, penghormatan bendera Merah-Putih tidak hanya dihormati menggunakan fisik, tapi dengan hati pun juga bisa. “Anak saya memang tidak hormat secara fisik menangkat tangan ke kepala, cukup dengan hati. Karena penghormatan orang itu berbeda-beda,” kata ayah dari anak yang enggan disebutkan namanya.

Dirinya pun berharap kepercayaan mereka ini tidak dijadikan bahan diskriminasi oleh penganut lainnya.

Adapun warga yang ditemui di lokasi tempat ibadah Saksi Yehuwa, yang berada di Kelurahan Sebengkok, belum bisa berkomentar lebih jauh mengenai kepercayaan mereka. Menurut pengelola tempat ibadah, untuk membicarakan hal ini menunggu waktu yang tepat dan waktu luang untuk memberikan penjelasan. “Nanti saya hubungi, karena untuk penjelasan seperti ini tidak boleh buru-buru, nanti saya hubungi,” kata salah satu pria di lokasi ibadah para pengikut Saksi Yehuwa.

(eru/ash/pojoksatu)


Feeds