Dituntut Terus Berinovasi, tapi Kok Anggaran Riset Dipangkas Dua Kali

ilustrasi

ilustrasi

POJOKSATU.id – Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi menyoroti pemangkasan anggaran riset oleh pemerintah.

Padahal di dalam udang-undang jelas disebutkan, pemerintah tidak boleh memangkas anggaran riset. Kecuali bila tujuan pemangkasannya untuk efisiensi. Itu pun tidak boleh merata.

“Aturan undang-undang sudah jelas tapi anggaran riset tetap dipotong sampai dua kali lagi. Piye toh?” kata Bambang dalam Seminar Internasional STP dan Seminar Nasional Dewan Riset Nasionan (DRN) di Makassar, Rabu (9/8).

Menurut Bambang, riset untuk kesehatan dan pertahanan keamanan tidak boleh dipotong karena dibutuhkan masyarakat banyak.

Menanggapi itu Menteri Riset, Teknologi, Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, walaupun ada pemangkasan, riset dan publikasi harus tetap jalan. Jangan hanya terfokus pada dana pemerintah tapi bisa juga mengandalkan sumber lainnya.

Tidak hanya itu, Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang diminta terus mengembangkan kemampuannya agar bisa menghasilkan inovasi bermanfaat masyarakat. Dengan kualitas hasil riset dan inovasi bisa didorong untuk diterapkan di Science Techno Park (STP) maupun ndustri.

“Triple helix harus didorong karena peneliti, dunia usaha, dan masyarakat sangat berperan penting dalam pembangunan ekonomi nasional dan daerah,” ujar Menteri Nasir.

Dia menambahkan inovasi tidak bisa muncul tanpa adanya perekayasa. Hasil riset untuk menjadi sebuah inovasi dan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, harus bisa dihilirisasi dan dikomersialisasikan ke industri kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati menambahkan, Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi, para doktor, anggota dewan riset, beserta tokoh-tokoh, LPNK, akademisi, dan profesor yang mendukung riset pengembangan, serta inovasi untuk menjadi salah satu target utama dalam daya saing bangsa.

Salah satu capaiannya menurut Dimyati adalah jurnal publikasi ilmiah Indonesia yang diharapkan setidaknya bertahan berada pada ranking tiga regional ASEAN di tahun 2017.

“Harus tetap berkerja keras untuk mencapai itu semua lebih baik lagi, bertahan dan meningkat terus untuk publikasi internasional,” ucap Dimyati.

Dirjen Kelembagaan Patdono Suwignjo menambahkan, salah satu capaian lainnya yaitu Science Techno Park (STP).

Pembangunan STP menjadi sangat penting mengingat pencapaian pembangunan 100 STP bisa tercapai dalam periode 2015-2019 dengan segala upaya sudah dilakukan.

(esy/jpnn/pojoksatu)


Feeds