KPAI : Sekolah Bukan Lagi Tempat Aman buat Anak

siswa SD

siswa SD

POJOKSATU.id –¬†Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan pernyataan jika sekolah bukan lagi tempat yang aman buat anak. Hal ini menyusul kematian SR, siswa kelas 2 SDN Longkewang, Sukabumi yang dianiaya temannya sendiri di lingkungan sekolah.

Komisioner KPAI, Retno Listyarti mengatakan, kematian SR menunjukan bahwa sekolah aman dan nyaman bagi anak didik ternyata masih jauh dari harapan.

Terkait dengan adanya pembelaan pihak sekolah dengan menyatakaan bahwa peristiwa kekerasan yang menimpa SR terjadi di belakang kantor, sementara pendidik fokus mengawasi pelajar di depan kantor, tetap tidak bisa di tolerir.

“Lingkungan sekolah aman meliputi seluruh luas sekolah tanpa kecuali, bahkan juga radius bebarapa ratus meter dari sekolah masih menjadi tanggungjawab pihak sekolah,” katanya.

Adapun pernyataan yang menyebut bahwa tidak ditemukan bekas pukulan, hanya baju dan celana SR yang kotor, menunjukkan kesimpulan yang mendahului penyelidikan hasil otopsi yang sedang dilakukan aparat penegak hukum.

“Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi dan jajarannya, seharusnya justru mendukung penyelidikan dan menolak berkomentar hingga ada hasil dari penyelidikan resmi dari aparat kepolisian. Harusnya, yang urgen di lakukan pihak Disdik adalah melakukan evaluasi terhadap pengelola atau tenaga pengajar dan sistem pengawasan di sekolah,” katanya.

Lanjut Retno, pemerintah daerah juga harus segera menurunkan tim inspektorat untuk melakukan pemeriksaan terkait pembinaan, pengawasan dan evaluasi terhadap jajaran birokrasi pendidikan hingga pihak satuan pendidikan.

KPAI juga mendukung penyelidikan pihak aparat penegak hukum, namun KPAI akan memastikan bahwa anak sebagai pelaku atau istilah perudangan adalah anak berhadapan dengan hukum (ABH) harus sesuai dengan UU No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

“Apalagi para pelaku masih dibawa usia 12 tahun, penanganannya harus memperhatikan hak-hak anak dan kondisi psikologinya sebagai anak sebagaimana diatur dalam UU SPPA tersebut.

Substansi yang paling mendasar dalam Undang-Undang SPPA adalah pengaturan secara tegas mengenai Keadilan Restoratif dan Diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar,” katanya.

KPAD kabupaten Sukabumi sendiri hari ini meninjau TKP (tempat Kejadian Perkara) dan akan mengumpulkan keterangan yang dibutuhkan KPAI dalam menelaah kasus ini demi kepentingan dan perlindungan anak. KPAI juga akan berkoordinasi dengan Pemda Sukabumi dan Polres Sukabumi terkait masalah kematian SR.

(sms/pojoksatu)


Feeds