Nuklir Korut Bisa Saja Meluncur Meski Kim Jong Un di Singapura, Ancaman Mengerikan

Donald Trump dan Kim Jong Un

Donald Trump dan Kim Jong Un

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dipastikan akan terjadi pada hari ini di Pulau Sentosa, Singapura.

Kedua pemimpin negara itu sudah tiba di Singapura pada Minggu (10/6/2018) dengan jam yang berbeda. Dalam Konfrensi Tingkat Tinggi AS dan Korut itu kemungkinan membahas denuklirisasi Korut dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Lantas siapa yang memegang tombol nuklir Korut saat Kim berada di Singapura.

Seperti diberitakan Reuters Kim pernah menyatakan bahwa tombol nuklir selalu berada di meja kantornya, yang secara luas ditafsirkan sebagai acuan untuk kontrol pribadinya atas persenjataan nuklir Korut.

Pesan tersebut dibalas Trump melalui akun twitter pribadinya yang menyatakan “Saya juga memiliki tombol nuklir, tetapi tombol ini jauh lebih besar dan lebih kuat dari miliknya, dan tombol saya bekerja dengan baik!”

Ketika keduanya bertemu di Singapura untuk membicarakan denuklirisasi Korut, Trump akan selalu ditemani oleh seorang staf yang membawa koper yang didalamnya terdapat “tombol nuklir” yang bisa digunakan Trump kapan saja.

Di sisi lain, Korut yang dikenal sebagai negara tertutup, diprediksi memiliki komando dan kontrol fasilitas nuklir dalam lingkaran yang ketat dan tak dapat ditembus.

Para analis yang mengamati Korut percaya tidak mungkin Kim akan datang ke Singapura tanpa meyakini bahwa keamanan nuklir terjaga dan kemampuan untuk penggunaan bisa dilakukan dengan segera.

Andrew O’Neil, ahli kebijakan nuklir dari Griffith University, Australia menilai komunikasi intelijen dan komando nuklir Korut telah dikonfigurasi dalam menjalankan pengambilan keputusan Kim dan jika diperlukan keputusan tersebut akan tetap diambil meski Kim tidak dalam jangkauan aman dari nuklir.

Senada dengan Andrew, Michael Madden, pengamat Korut, menilai kemungkinan Kim mendelegasikan otoritas untuk mengawasi gudang senjata ke salah satu dari sejumlah pejabat Korut yang dipercaya yang tinggal di Pyongyang, termasuk Choe Ryong Hae, salah satu dari beberapa pemimpin senior yang melepas Kim berangkat ke Singapura.

“Kim dapat mengesahkan atau menyetujui serangan rudal saat dia pergi, ada protokol untuk peluncuran,” kata Madden.

Madden juga menilai ada kemungkinan sistem sandi untuk mengaktifkan sistem yang mencakup dalam peluncuran rudal balistik Korut.

“Hanya ada fasilitas tertentu di mana komunikasi ini dapat diaktifkan,” kata Madden.

(nes/rmol/pojoksatu)




loading...

Feedss