Parah, Myanmar Mulai Terapkan “Zona Bebas Muslim”

Salah satu Papan Zona Bebas Muslim di  Myanmar (Foto: BHRN)

Salah satu Papan Zona Bebas Muslim di Myanmar (Foto: BHRN)

POJOKSATU.id, YANGON – Sedikitnya ada 21 desa yang tersebar di Myanmar mulai memasang papan tanda peringatan “”zone bebas muslim” demikian laporan BHRN.

Laporan tersebut diterbitkan oleh Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN) pada tanggal 5 September lalu, demikian laporan Coconuts.

Mereka mengkalim sejak kerusuhan di Rakhine tahun 2012 antara umat Budha dan Muslim membuat desa-desa di Myanmar mulai menerapkan “zona bebas Muslim”.

“BHRN menemukan 21 desa yang tersebar, dengan izin dari pihak berwenang, telah memasang papan tanda peringatan agar tidak masuk Islam,” kata pendiri dan direktur eksekutif BHRN Kyaw Win.

Laporan tersebut dipresentasi baru-baru ini di Bangkok.

Sebelum tahun 2012, ada sejumlah kota di Myanmar sudah mulai melakukan upaya pembatasan bagi Muslim, yaitu di Negara Bagian Rakhine dan Negara Bagian Kayin,

Namun, menurut analisis NHRN, jumlah tersebut telah meningkat di seluruh negeri dalam menanggapi narasi yang menggambarkan Muslim sebagai ancaman.

“Kekerasan yang dimulai pada tahun 2012 memicu upaya intensif di kalangan nasionalis Buddhis untuk menentukan siapa dan tidak termasuk di Burma,” kata laporan tersebut.

“Desa-desa ini telah menjadi benteng simbolis dari kemurnian Buddhis,” demikian kesimpulannya.

Seiring dengan analisisnya, laporan tersebut mencakup foto puluhan papan dan dokumen yang menyatakan desa-desa terlarang bagi umat Islam.

Beberapa papan-papan terpampang sebagaiberikut:

Papan Zona Bebas Muslim Myanmar

Papan Zona Bebas Muslim Myanmar (Foto: BHRN)

Papan lainnya, menyiratkan bahwa umat Islam asing bagi Myanmar.

Papan Zona Bebas Muslim Myanmar1

(Foto: BHRN)

Salah satu papan lainnya dengan tegas melarang semua orang non-Buddhis. Satu tanda yang sangat mengkhawatirkan berbunyi:

Papan Zona Bebas Muslim Myanmar2

(Foto: BHRN)

Menurut BHRN, “desa bebas Muslim” ini merupakan bagian dari tren penyiksaan sistematik Muslim yang lebih luas di Myanmar dan menargetkan orang-orang Rohingya dan orang-orang non-Rohingya.

Laporan tersebut mendokumentasikan kasus di mana masjid yang rusak atau hancur dicegah untuk dibangun kembali.

Selain itu upaya umat Buddha untuk mengintimidasi Muslim saat beribadah dengan menuduh mereka melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.

Sementara kegiatan kelompok anti-Muslim vokal seperti Ma Ba Tha kurang populer sejak Liga Nasional untuk Demokrasi mengambil alih pemerintahan pada tahun 2015.

BHRN berpendapat bahwa bentuk represi institusional yang ketat dan subtestis terhadap Muslim Myanmar telah diizinkan oleh pihak berwenang.

(mia/pojoksatu)


Feeds