Tepis Isu Jokowi Anak PKI: Bapak Saya dari Karanganyar, Ibu Saya dari Boyolali

Presiden Jokowi berbincang dengan pelajar. (Foto Setgab)

Presiden Jokowi berbincang dengan pelajar. (Foto Setgab)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Isu Jokowi anak PKI kembali ramai jelang Pemilihan Presiden 2019. Isu ini dianggap bisa menggerus elektabilitas Jokowi.

Tak mau isu itu menjadi bola panas, Presiden Jokowi kembali menegaskan bahwa dirinya bukan anak PKI. Hal itu ditegaskan Jokowi dalam sambutannya saat meresmikan pengoperasian Kereta Api (KA) Minangkabau Ekspres, di Bandara Internasional Minangkabau, Padang Pariaman, Sumbar beberapa waktu lalu.

Presiden Jokowi menjawab isu menyangkut dirinya, mulai dari isu soal PKI hingga anak orang Singapura.

“Saya lahir tahun 1961, PKI itu dibubarkan 1965. Artinya saya masih balita, masih umur 3,5 tahun. Kan enggak mungkin ada balita PKI. Logikanya enggak masuk,” ujar Jokowi, seperti dikutip dari laman setkab.go.id.

Menurut Jokowi, silsilah keluarganya bisa dicek dengan mudah. Di Solo, kata dia, banyak ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, Persis, Al Irsyad, dan Parmusi. Mereka bisa dengan mudah mengecek asal usul orang tuanya.

“Tanyakan saja di masjid di dekat rumah saya. Siapa orang tua saya, siapa kakek nenek saya, siapa saya, gampang banget,” tambah Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengingatkan, sekarang ini semua terbuka, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi.

Jokowi mengatakan, dirinya harus menjawab isu mengenai dirinya anak Oey Hong Liong, tionghoa dari Singapura, agar isu ini tidak kemana-mana.

“Bapak saya dari Kabupaten Karanganyar, ibu saya dari Kabupaten Boyolali. Orang desa semuanya,” ungkap Jokowi seraya mengakui bahwa dirinya juga bukan elite politik orang melainkan dari kampung.

Hindari Prasangka Buruk

Menurut Jokowi, kalau isu-isu seperti ini diteruskan, akan membuat tidak produktif.

Konsentrasi dan energi yang harusnya dicurahkan untuk membangun infrastruktur seperti bandara, kereta api bandara, jalan tol maupun tahapan untuk membangun sumber daya manusia menjadi habis untuk menjawab hal-hal seperti ini.

“Mestinya kita ini khusnul tafahum bukan su’ul tafahum. Kalau su’ul tafahum itu gampang menduga, gampang berprasangka jelek, gampang berprasangka buruk, melihat sesuatu dengan pikiran negatif,” kata Jokowi.

Sementara kalau khusnul tafahum, menurut Jokowi, selalu berpikiran positif, berpikiran dengan kecintaan, dan tidak ada prasangka buruk.

Oleh sebab itu, Jokowi mengajak semua pihak untuk selalu berpikir positif, bekerja secara produkif, sehingga ketertinggalan bangsa Indonesia dari negara tetangga bisa dikejar bersama-sama.

(one/pojoksatu)




loading...

Feedss