Orator Aksi Bela Islam 64 Tuntut Tangkap Sukmawati, Singgung Megawati

Massa aksi Bela Islam 64 mulai bergerak ke Bareskrim Polri. (rmol)

Massa aksi Bela Islam 64 mulai bergerak ke Bareskrim Polri. (rmol)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aksi Bela Islam 64 menuntut polisi menangkap Sukmawati Soekarnoputri. Ribuan massa dari Alumni 212, GNPF dan Front Pembela Islam (FPI) menggeduruk Bareskrim Polri.

Aksi di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (6/4/2018) itu diikuti oleh ribuan massa dari berbagai daerah.

Para orator aksi bergantian naik ke atas mobil komando untuk membakar semangat massa aksi.

Salah satu orator memekik, agar polisi menangkap putri proklamator Kemerdekaan RI Soekarno itu.

“Kami menuntut Mabes Polri untuk segera menangkap Sukmawati Soekarnoputri. Ancaman Pasal 156a, 5 tahun penjara. Itu sudah bisa ditahan,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.

Sukmawati Harus Ditangkap, Aksi Bela Islam 64 Ancam Mabes Polri

Menurut sang orator, puisi Sukma berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan Sukmawati beberapa waktu lalu sudah melecehkan syariat Islam.

Hal itu terkait pembandingan azan dan cadar dengan kidung dan cadar.

“Meskipun adiknya ketua umum partai, tapi Sukmawati harus ditangkap,”

“Meskipun dia anak orang yang dianggap paling berjasa untuk negeri ini, kalau sudah menistakan agama, harus ditangkap,” tegasnya.

Terkait Aksi Bela Islam 64, Syafruddin Minta Publik Percaya Polri

Sang orator menyatakan, bagi siapapun yang melecehkan syariat Islam, apakah itu orang beragama Islam atau bukan, tetap harus dihukum pidana.

Karena itu, kendati Sukmawati sudah menyampaikan permintaan maafnya, proses hukum harus tetap berjalan.

“Kalau meminta maaf terus kasusnya dihentikan, maka kasus lain juga harus dihentikan,”

“Koruptor yang meminta maaf pun harus dibebaskan,” lantangnya.

Wakapolri Komjen Syafruddin meminta masyarakat mempercayakan penanganan kasus Sukmawati itu kepada Polri.

Delegasi Massa Aksi 64 Masuk Ke Bareskrim Polri

Pihaknya menjamin, korps Bhayangkara itu akan bekerja sesuai dengan hukum dan perundangan yang berlaku.

“Jangan terlalu khawatir, Polri akan profesional dan proporsional,” tegas dia, Jumat (6/4/2018).

Bahkan kata Syafruddin, Polri tak akan menunggu, tapi bergerak dalam melakukan penyelidikan.

Termasuk untuk mencari bukti-bukti dan meminta keterangan para ahli.

“Kami bukan menunggu, tapi sudah merespons. Tunggu dari ahli-ahli, Polri hanya melaksanakannya saja,” tegas dia.

Download aplikasi PojokSatu.id dapat hadiah menarik setiap hari

(wid/rm/ruh/pojoksatu)



loading...

Feedss