Fakta 3 Mahasiswa Surabaya Bobol 44 Negara, FBI Turun Tangan

Hacker asal Surabaya ditangkap FBI bersama Polda Metro Jaya

Hacker asal Surabaya ditangkap FBI bersama Polda Metro Jaya

POJOKSATU.id, SURABAYA – Kepintaran tiga mahasiswa Surabaya ini patut diacungi jempol. Sayang, kepintarannya justru digunakan untuk kejahatan. Ketiganya berhasil meretas 800 website di 44 negara hingga membuat FBI turun tangan.

Ketiga mahasiswa itu bernama Katon Primadi Sasmitha (21), Nizar Ananta (21), dan Arnold Triwardhana Panggau (21). Ketiganya merupakan anggota komunitas Surabaya Black Hat (SBH).

Kasubdit Cyber Crime Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu bersama dengan tim, berhasil meringkus tiga mahasiswa Surabaya itu atas laporan dari FBI.

“Informasi itu melalui internet crimes complain center (IC3) di USA. Mereka mengirimkan informasi Melalui Federal Bureau of Investigation (FBI). Ada sekelompok anak-anak Indonesia yang melakukan beberapa kali serangan kepada sistem elektronik atau website dari beberapa korban di berbagai negara,” katanya saat ditemui awak media, di Polda Metro Jaya, Selasa (13/3).

Ketiga mahasiswa Surabaya itu telah merusak sistem di 44 negara di dunia termasuk Indonesia. Tidak hanya itu mereka juga telah merusak website atau sistem elektronik sebanyak 3.000 sistem. Salah satunya adalah sistem pemerintahan Amerika Serikat.

“Dari beberapa serangan tersebut ada IP address yang digunakan ternyata di Indonesia, khususnya di Surabaya. Kemudian dua bulan melakukan pencarian di Surabaya, dan menemukan sebanyak enam pelaku utama dan kita lakukan upaya tangkap paksa, untuk mencegah tindak pidana kembali terjadi,” lanjut Roberto.

Menurut pengakuan tersangka, lanjut Roberto, tindakan mereka merupakan hal yang lumrah. Mereka berdalih untuk melakukan penetration testing, yakni menguji apakah ada kelemahan di dalam web tersebut. Akan tetapi menurut Roberti itu adalah tindakan illegal.

“Melakukan penetration itu harus ada izinnya. Apakah pemilik web menyetujuinya atau tidak,” ungkap Roberto tegas.

Selain itu mereka telah melakukan kejahatan tersebut sejak tahun 2017 silam. Sehingga mereka telah mendapatkan sejumlah uang sebesar Rp 50 sampai Rp 200 juta per orang.

Kemudian tindak peretasan sendiri tidak melalui virus akan tetapi dengan menggnakan metode SQL, yakni dengan meninjeksi sebuah codding kedalam sebuah sistem.

Sampai saat ini tiga pelaku lainnya masih dalam pencarian. Sedangkan ketiga pelaku yang telah ditangkap telah ditahan di Polda Metro Jaya.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, berupa satu buah handphone Samsung Galaxy S6 Flat, empat buah laptop dua diantaranya adalah laptop gamming, satu buah buku rekening BCA atas nama NA, satu buah ATM BCA atas Nama NA, satu buah Flasdisk Toshiba 16GB.

“Kemudian ada iPhone7+, buku tabungan atas nama KPS, satu buah ATM atas nama KPS, satu buah Wifi, satu buah handphone Oppo, buku tabungan atas nama ATP, satu buah ATM atas nama ATP, dan satu buah Mifi Andromax,” pungkas Roberto.

Para tersangka akan dikenakan pasal 29 ayat 2 jo pasal 45B, pasal 30 jo pasal 46, pasal 32 jo pasal 48 Undang-Undang RI No. 19 Tahin 2016 tentang perubahan UU RI No. 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik, dengan ancaman hukuman 8 sampai 12 tahun masa tahanan.

(ipy/jpc/pojoksatu)




loading...

Feedss