Deretan Alasan Jokowi dan Prabowo Tak Akan Bisa Bersatu, Panjang…

Jokowi dan Prabowo Subianto. Foto via jpnn

Jokowi dan Prabowo Subianto. Foto via jpnn

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pilpres 2019 sudah di depan mata. Namun, baru dua tokoh yang mencuat sebagai capres. Yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.

Terbaru, berkembang wacana Jokowi-Prabowo bersatu dan menjadi satu paket yang akan bertarung di Pilpres 2019 sebagai capres dan cawapres.

Sejumlah alasan mengemuka. Diantaranya, untuk menyatukan bangsa Indonesia serta saling menguatkan demi Tanah Air dengan kekuatan masing-masing.

Akan tetapi, Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai, keduanya bakal sulit untuk disatukan.

Insiden GBK, Pendiri Presidium Alumni 212: Sinyal Jokowi-Anies Baswedan Berpasangan di Pilpres 2019

Salah satu sebabnya adalah, dengan bersatunya Jokowi dan Prabowo, justru akan mereduksi perolehan suara Gerindra di Pemilu 2019 mendatang.

Pangi mengutarakan, pemilih Gerindra dan Prabowo selama ini sejatinya bukan pengagup mantan Danjen Kopassus tersebut.

Melainkan para pemilih yang sebenarnya tidak mau memilih atau tidak menyukai Jokowi.

Kondisi tersebut, jelasnya, kemudian membuat para pemilih mengalihkan kepada ssok lain untuk dipilih.

Jokowi dan Prabowo Bersatu di Pilpres 2019, Roy Suryo: Lucu Banget ya…

“Kalau Prabowo berpasangan dengan Jokowi, maka bisa jadi suara Gerindra anjlok. Karena pemilih Gerindra itu tidak memilih Jokowi,” ujar Pangi kepada JPNN (grup pojoksatu.id), Senin (19/2/2018).

Direktur Eksekutif Voxpol Center ini meyakini, Prabowo dan petinggi Gerindra tentu sudah mengkaji kemungkinan tersebut.

Terlebih, sambugany, pilpres kali ini digelar serentak dengan pemilihan legislatif.

Dengan demikian, sosok capres yang diusung masing-masing parpol bakal sangat menentukan keterpilihan caleg di masing-masing daerah.

Prabowo Bisa jadi Cawapres Jokowi, tapi Ada Syaratnya

Senada, juga diungkap pengamat komunikasi politik Ari Junaedi.

Pengajar di Universitas Indonesia ini mendasari pandangannya berdasarkan sejumlah fakta yang mengemuka.

Misalnya, terkait kekuatan partai politik yang berada di belakang keduanya selama ini.

Dari fatsun politik yang dianut Prabowo dengan Jokowi atau Gerindra dengan PDIP, adalah sama sekali berbeda.

Survei Terbaru Poltracking, Siapapun Lawan Jokowi Pasti Keok

“Atau katakanlah partai-partai pendukungnya, Gerindra-PKS-PAN dengan PDIP-PKB-Nasdem-Hanura-Golkar. Akan sangat diametral,” ujar Ari.

Ari kemudian mengilustrasikan, Prabowo selama ini cenderung dipersepsikan sebagian kalangan berada di kutub yang haus akan kekuasaan sedangkan Jokowi di kutub yang ikhlas bekerja.

Karena itu, kecil peluang menyandingkan dua kutub tersebut dalam satu alur yang sama.

“Sangat mustahil juga Prabowo yang selalu pasang target untuk RI-1 tiba-tiba mau melorot di posisi cawapres,” ucapnya.

Survei Terbaru Poltracking Indonesia, Joko Widodo tak Terbendung, Prabowo Merayap

Meski demikian, Ari mengakui dalam politik tidak ada hal yang tak mungkin. Semua bisa terjadi secara tiba-tiba.

“Andai Prabowo bersedia menjadi cawapresnya Jokowi, tentu dengan ego politiknya yang besar, akan meminta konsesi cukup besar,” katanya.

Ari memprediksi, Prabowo kemungkinan menghendaki pos-pos strategis nantinya berada di tangan para loyalisnya, seperti Fadli Zon.

Ada Kemungkinan Joko Widodo Duet dengan Prabowo di Pilpres 2019, Apa yang Terjadi?

Pos-pos tersebut antara lain, bisa saja, Kementerian BUMN, Kemendagri dan Kementerian Sosial.

“Kalau ini terjadi, parpol-parpol loyalis yang mengusung Jokowi sejak awal tidak akan sepakat,”

“Istilahnya, tanpa sokongan Gerindra pun Jokowi akan menang di pilpres 2019,” pungkas Ari.

Download aplikasi Pojoksatu.id dan dapatkan hadiah menarik setiap hari

(gir/jpnn/ruh/pojoksatu)



loading...

Feedss