Usai Ulama dan Ustadz, Gereja dan Pendeta Diserang: Fenomena Orang Gila atau Adu Domba?

Suasana di depan Gereja St Lidwina usai aksi penyerangan

Suasana di depan Gereja St Lidwina usai aksi penyerangan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aksi penyerangan Gereja Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta saat menjalankan peribadatan mengundang keprihatinan dari banyak kalangan.

Tak sedikit pihak yang kemudian mengecam dan mengutuk aksi lelaki dengan memakai pedang dalam aksi penyerangan tersebut.

Ironisnya, pelaku yang diketahui bernama Suliyono (22) warga Krajan RT 02/RW 01 Desa Kandangan, Pesanggrahan, Banyuwangi, Jawa Timur itu masih berstatus mahasiswa.

Hal itu tentu saja sangat menciderai kerukunan umat beragama di Indonesia selama ini.

Namun jika sedikit ditarik ke belakang, penyerangan Gereja Lidwina ini sejatinya bukan kali pertama terjadi bagi kehidupan beragama di Indonesia.

Sebelumnya, sudah ada beberapa yang menjadi lembar pembuka di 2018 ini.

Gereja Lidwina Diserang, Ketua DPR Ungkap Ada Ancaman Besar

Seperti serangan terhadap Pengasuh Pondok Pesantren al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri, Sabtu (27/1).

Saat itu, ia dipukul secara membabi-buta oleh seseorang usai melaksanakan shalat Subuh.

Usut punya usut, pelaku akhirnya ditangkap hanya beberapa jam usai kejadian keji itu.

Dan ternyata, polisi menyatakan bahwa pelaku penganiaya KH Umar Basri itu mengidap gangguan jiwa, alias gila.

Saat itu, tak satupun yang menyangka peristiwa itu menjadi pembuka rentetan kejadian serupa.

Sebab, hanya berselang tiga hari kemudian, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Ustadz Prawoto juga diserang.

Malah, pelaku dengan keji menganiaya Ustadz Prawoto dengan memukulkan linggis ke kepala korban.

Akibatnya, Ustadz Prawoto akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan luka di kepala dan sejumlah patah tulang.

Lagi, pelakunya adalah seseorang dengan gangguan jiwa, alias gila.

Gereja Lidwina Diserang, GP Ansor: Ada Motif Agama dan Politik!

Usai dua peristiwa tersebut, entah kebetulan atau tidak, memicu keresahan dan melahirkan isu: ulama dan ustadz diincar jadi sasaran pelaku berkedok orang gila!

Alhasil, bermunculan pula kabar-kabar penganiayaan, penyerangan dan rencana-rencana pembunuhan terhadap ulama dan ustdadz.

Belum reda isu tersebut, Gereja Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta diserang oleh seorang pemuda.

Dengan menggunakan samurai, pelaku atas nama Suliyono itu menyerang jemaat yang tengah melakukan peribadatan, Minggu (11/2/2018) sekitar pukul 07.30 WIB.

Pengakuan Ketua Gereja Santa Lidwina, Sukatno, serangan itu terjadi saat jemaat tengah hening dan berdoa khusuk.

Lalu, Suliyono masuk dan memekikkan takbir sembari mengacungkan samurai yang dibawanya.

Kapolres Sleman AKBP Firman Lukmanul Hakim mengatakan, pelaku masuk dari pintu gereja bagian barat dan langsung menyerang korban atas nama Martinus Parmadi Subiantoro dan mengenai punggung korban.

Melihat hal itu, para jemaat yang berada di belakang ataupun kanopi langsung bubar untuk menyelamatkan diri.

Tak puas, Suliyono kemudian masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun-ayunkan senjata tajam yang membuat para jemaat kocar-kacir.

Penyerang Gereja Lidwina: Masa Orang Gila Semua? Aneh!

Selanjutnya pelaku berlari ke arah koor dan langsung menyerang Romo Prier yang sedang memimpin misa.

Pelaku dengan senjata tajamnya masih berusaha menyerang para jemaat yang masih berada di dalam gereja dan mengenai korban Budi Purnomo.

Firman menambahkan, petugas Polsek Gamping yang dihubungi melalui telepon selanjutnya mendatangi TKP, Aiptu Munir mencoba melakukan negosiasi kepada pelaku agar menyerahkan diri.

Namun pelaku berusaha menyerang petugas sehingga petugas mengeluarkan tembakan peringatan dan pelaku masih saja menyerang petugas mengenai tangan Aiptu Munir dan akhirnya timah panas terpaksa di tembakan ke paha pelaku.

Sedangkan korban luka dalam kejadian tersebut yakni Budijono (44) warga Perumahan Nogotirto Gamping Sleman mengalami luka sobek pada bagian kepala belakang dan leher bagian belakang akibat senjata tajam.

Selain itu, Romo Prier SJ mengalami sobek pada kepala belakang akibat senjata tajam. Serta, aiptu Munir mengalami luka pada tangan akibat senjata tajam.

Selanjutnya Martinus Parmadi Subiantara warga Nusupan Rt. 02 Rw. 28 Trihanggo, Gamping, Sleman mengalami luka pada punggung akibat senjata tajam.

Kendati demikian, Firman meminta agar kejadian ini tak dikait-kaitkan dengan agama maupun politik.

Gereja Lidwina Diserang, Sultan Hamengkubuwono X Murka

Sebab, pelaku saat ini masih menjalani perawatan medis dan belum bisa dimintai keterangan.

Kendati demikian, Kapolres Sleman Firman Lukmanul Hakim berjanji akan mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Termasuk, kata dia, mendalami apakah pelaku mengidap gangguan jiwa atau tidak.

“Motif sementara kita belum tahu, kita masih dalami. Gangguan jiwa kita belum tahu,” ujar Firman.

Kapolda DIY Brigjen Ahmad Dofiri yang datang ke Gereja Lidwina menyebut aksi Suliyono itu adalah tindakan biadab.

Pihaknya akan menanti kondisi pelaku stabil terlebih dahulu untuk menginterogasinya.

“Kalau dari identitas, dia memang mahasiswa. Kalau sudah stabil, kami interogasi. Pelaku sekarang masih di RS Bhayangkara,” ucapnya.

Dhofiri menambahkan, masyarakat sebaiknya tak membuat kesimpulan sendiri atas peristiwa itu.

Selain itu, ia juga meminta masyarakat tidak menerima mentah-mentah informasi tak jelas sumbernya yang beredar.

Karena itu, pihaknya meminta publik untuk bersabar sampai dilakukan penyelidikan hingga tuntas.

Kesaksian Jemaat Gereja Lidwina, Pecahnya Hening Akibat ‘Allahu Akbar’

“Mohon sabar, kami pasti akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Sampai saat ini belum didapatkan informasi yang mengaitkan pelaku ke jaringan-jaringan tertentu,” tegasnya.

Anggota Dewan Unit Kerja Presiden bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Ahmad Syafii Maarif atau biasa disapa Buya Syafii turut mendatangi lokasi kejadian Minggu, (11/2/2018) pagi sekitar pukul 9.10 WIB.

Buya menegaskan dalang penyerangan harus segera diusut tuntas.

“Harus ditelusuri betul siapa orangnya, apakah ada kelompok atau bergerak sendiri,” jelasnya.

Ia mengaku kecewa berat tragedi penyerangan di tempat ibadah bisa terjadi.

“Kok di sini itu lho. Motifnya apa. Padahal suasana setempat kondusif. Selama ini nggak ada persoalan,” ujarnya.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X pun ikut mengutuk keras peristiwa tersebut.

Selain itu, Sultan juga mengaku sedih dan prihatin.

Hal lain yang membuatnya sedih adalah peristiwa itu terjadi di Yogyakarta.

Penyerangan Gereja Lidwina, Aparat Haram Tunduk pada Kelompok Intoleran!

Sebab selama ini, Yogyakarta dikenal sangat mengutamakan kebersamaan sebagai budaya yang selalu dijaga.

“Itu kenapa sedih, tapi tak bisa menangis,” ucapnya usai mengunjungi para korban yang dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta, Minggu (11/2/2018).

Ia juga tak habis pikir atas tindakan Suliyono yang membuat teror kepada para jemaat saat melangsungkan ibadah yang jelas bukan karakter dari masyarakat Jogjakarta.

“Saya ingin menyampaikan saya tidak memahami, tidak mengerti kenapa ada perbuatan yang keji tanpa ada kemanusiaan,”

“Ada umat yang sedang melaksanakan ibadah kenapa ada kekerasan, yang dilakukan seseorang tanpa berperikemanusiaan. Jelas itu bukan karakter kita masyarakat Jogja,” tuturnya.

Sultan berharap, peristiwa penyerangan hari ini tidak terulang lagi di kemudian hari.

Jangan sampai ketika ada orang beribadah ada tindakan yang tidak berperikemanusiaan.

“Terlalu keji tanpa perikemanusiaan itu bukan masyarakat Jogja,” pungkasnya.

Politikus Jangan Jadikan Gereja Lidwina Ajang Tebar Pesona!

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo pun mengutuk keras aksi warga Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala BNN Budi Waseso dan Kabareskrim, Bamsoet pun mendatangi gereja Lidwina, Minggu (11/2/2018) malam.

Menurutnya, tindakan tersebut merupakan penebaran teror di ruang peribadatan.

Sebab, tindakan persekusi ataupun kekerasan terhadap seseorang, tidak pernah dibenarkan dalam hukum maupun ajaran agama manapun.

Karena itu, Bamsoet meminta aparat kepolisian bergerak cepat dalam menangani peristiwa ini.

Pasalnya, agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan kejadian ini dengan kejadian sosial politik dan keagamaan.

Sehingga diharapkannya, kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat akan tetap terjaga.

“Tindakan kriminal ini harus segera diproses hukum,” pintanya.

Namun, wantinya, jika polisi tidak bergerak cepat, bakal ada ancaman yang lebih besar ke depannya.

Rahasia Pelaku Penyerangan Gereja Lidwina Terungkap, Penganut Aliran Keras Ini!

“Saya khawatir akan ada pihak yang memprovokasi masyarakat kita sehingga kerukunan dan kedamaian bisa terganggu,” pungkasnya.

Kendati demikian, ia meminta masyarakat agar tak mudah terprovokasi terkait peristiwa tersebut.

Selain itu, politisi Partai Golkar itu juga memint masyarakat tetap waspada terhadap upaya-upaya yang bertujuan untuk mengadu-domba antar umat beragama.

“Masyarakat Indonesia terkenal dengan budaya rukun dan guyub. Tidak ada dasar agama maupun budaya yang mendidik kita melakukan tindakan kekerasan,”

“Saya harap masyarakat tidak terprovokasi, apalagi mengaitkan ini dengan kondisi sosial politik maupun keagamaan,” tutupnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas pun mengutuk peristiwa tersebut.

Yaqut menduga ada motif atau agenda setting atas serangkaian aksi teror belakangan ini.

Karena itu, pihaknya meminta aparat kepolisian usut tuntas kasus ini dan apa motifnya belakangnya.

“Jangan asal dibilang pelakunya diduga gila. Masak dari semua kejadian pelakunya gila semua? Aneh,” tegas Yaqut kepada wartawan, Minggu (11/2).

Gereja Lidwina Sleman Diserang, Romo Letkol TNI AU Sebar Pesan Ini

Gus Yaqut, sapaan akrabnya, tidak yakin pelaku benar-benar gila.

Apalagi kasus teror ini terjadi tidak berselang lama dan menimpa tokoh agama, mulai NU, Persis, Bhiksu di Tangerang, dan sekarang umat Katholik di Sleman.

Akan tetapi, ia yakin bahwa pelaku penyerang Gereja Lidwina memang gila.

“Tapi bukan secara psikologis atau fisik, tapi tergila-gila agama. Pelaku gila karena pemahaman agama yang salah,” jelasnya.

Gus Yaqut menyatakan, menurut info yang diterima pihaknya, Suliyono terindikasi mulai terpapar radikalisme agama pasca Pilkada DKI Jakarta.

Suloyono juga diketahui sebagai mahasiswa dan menjadi santri di Pondok Pesantren Sirojul Muhlisin, Topo Lelono, Secang, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Gus Yaqut, dengan latar belakang pelaku seperti itu, jelas ada motif di balik serangkaian kasus teror belakangan ini.

Selain motif agama, lanjut dia, sangat mungkin ada motif politik di belakangnya.

Pelaku Teror Gereja Lidwina Sleman Kritis, Motif Penyerangan Masih Misterius

“Sebab itu, sekali lagi saya minta aparat mengusut tuntas kasus ini, termasuk kasus-kasus sebelumnya,”

“Saya ingatkan kepada pihak-pihak di luar sana, jangan macam-macam terhadap Indonesia, jangan ganggu Indonesia. Kita akan lawan setiap upaya yang mengancam Indonesia,” tegasnya.

Ketua Setara Institute, Hendardi meminta aparat keamanan perlu sedini mungkin mewaspadai dan mencegah pola-pola gangguan keamanan.

Utamanya yang menyasar tokoh-tokoh agama dan menggunakan sentimen keagamaan.

Pasalnya, hal tersebut sangat rentan memecah belah umat beragama dan menghancurkan kerukunan di tingkat akar rumput.

“Pertama-tama, tentu dengan penegakan hukum yang profesional, terbuka, adil dan tidak memihak,” jelasnya di Jakarta, Minggu (11/2/2018).

Ia juga menegaskan bahwa aparat tidak boleh tunduk terhadap kelompok-kelompok tertentu yang dianggap intoleran.

Video Detik-detik Pelaku Menyerang Jemaat Gereja Lidwina Sleman

“Aparat tidak boleh tunduk terhadap kelompok-kelompok intoleran dalam penegakan hukum itu,” tegas Hendardi.

Lebih lanjut ia menyatakan, pihaknya sudah berkali-kali mengingatkan.

Bahwa lemahnya penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan dan persekusi terhadap tokoh maupun umat beragama akan mengundang kejahatan lain yang lebih besar.

Namun sampai saat ini, peringatan tersebut sepertinya belum menjadi perhatian serius.

Akibatnya, aksi serangan maupun persekusi terhadap pemuka agama mengemuka menjadi fenomena luar biasa.

Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak hanya di satu daerah, tapi menyebar mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Yogyakarta.

Download aplikasi PojokSatu.id dapat hadiah menarik setiap hari

(ruh/pojoksatu)



loading...

Feedss