Aksi Koboi Bupati Ngada: Mantan PAN, Jadi Ahok, Tutup Bandara dan Dugaan Hamili Mantan ART

Bupati Ngada, Marianus Sae. Foto ist

Bupati Ngada, Marianus Sae. Foto ist

POJOKSATU.id, JAKARTA – Bupati Ngada, Nusa Tenggar Timur, Marianus Sae terjaring dalam OTT KPK yang digelar Mimggu (11/2/2018) petang.

Ia ditangkap bersama sejumlah kepala dinas yang menjadi anak buahnya.

Marianus kini langsung menjalani pemeriksaan setelah tiba di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta.

Ternyata, Marianus memang bukan kali ini saja membikin heboh.

Sebelumnya, mantan kader Partai Amanat Nasional (PAN) itu tercatat pernah juga melancarkan sejumlah aksi bak koboi.

Bupati Ngada Marianus Sae Dipastikan Kena Sanksi, Politisi PDIP: Standard Sih

Ia pun sempat mendapat julukan sebagai Ahok-nya Nusa Tenggara Timur karena gaya kepimimpinannya.

Namun yang cukup menghebohkan adalah saat Marianus melakukan penuputan Bandara Turelelo Soa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir Desember 2013 lalu.

Kejadian itu bermula saat Marianus hendak pergi ke Kupang dengan menggunakan maskapai penerbangan Merpati Air.

Sayangnya, ia tak kebagian tiket dan menumpahkan kemarahannya itu dengan menutup bandara.

Akibat aksi Marianus itu, pesawat Merpati yang seharusnya mendarat di Bandara Turelelo Soa hari itu, harus terpaksa balik ke Bandara El Tari, Kupang.

Kejadian itu lantas membuat Kepala Pusat Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Bambang S. Ervan melakukan protes keras.

Kena OTT KPK, Ini Deretan Harta Kekayaan Bupati Ngada, Melejit!

Dirinya menyayangkan aksi yang dilakukan Marianus dengan melakukan penutupan bandara.

“Kalau itu benar, kami sungguh menyesalkan. Bandara itu kan untuk pelayanan publik bukan untuk kepentingan satu orang,” kata Bambang, 22 Desember 2013 lalu.

Atas kelakuannya itu, Kapolda NTT, Brigjen Ketut Untung Yoga mengatakan, Marianus terancam dijerat pasal 421 KUHP tentang Kejahatan Dalam Jabatan.

Sebab, aksi pemblokiran bandara itu dinilai telah menyalahgunakan kekuasaan untuk keuntungan dirinya sendiri.

“Dimana sebagai seorang pejabat, Marianus telah menyalagunakan kekuasaannya, sehingga diancam dengan pidana penjara 2,8 tahun,” ungkap Ketut.

Marianus juga pernah tersangkut kasus asusila dengan dugaan pemerkosaan terhadap seorang wanita yang pernah menjadi asisten rumah tangga-nya (ART), Maria Sisilia Natalia.

Bahkan kabarnya, sang jabang bayi pun sudah dilahirkan dengan nama Reginaldus Flavius, sebagaimana diungkap Perwakilan Koalisi Paulus Gregorius Kune.

Kena OTT KPK, Bupati Ngada Maju Pilkada dari Partai Ini

“Kasus ini sudah ditangani oleh Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F) di NTT,” ungkap Pria yang akrab disapa Polce itu.

Polce mengatakan, kasus yang dialami Maria Sisilia Natalia telah diadvokasi oleh para suster dan pastor di Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan keterangan Ketua TRUK-F Suster Eustochia Monika Nata, kata dia, Natalia melahirkan seorang bayi laki-laki pada 7 Mei 2012.

Di jabang bayi itu disebut-sebut hasil hubungan badan dengan Bupati Marianus Sae.

Sayangnya, meski ramai diberitakan, namun bupati selalu membantah.

Bahkan, menurut Polce, Suster Eustochia mengatakan pada November 2013 bahwa pihaknya mempunyai data-data berupa catatan, surat kuasa, rekaman, video wawancara.

Semua data itu menyebutkan bahwa ayah biologis anak dari Maria Sisilia Natalia adalah Bupati Ngada.

Ini Kasus Bupati Ngada Sampai Kena OTT KPK

TRUK-F dan Komnas Perempuan, kata Suster Eustochia kala itu, siap menjadi saksi jika ada yang melaporkan perbuatan Marianus Sae ini. Terkait kasus dugaan menghamili
Maria Sisilia.

Terakhir, Marianus kembali membikin heboh, yakni terjaring dalam OTT KPK, Minggu (11/2/2018) petang.

Ia ditangkap bersama sejumlah kepala dinas yang menjadi anak buahnya tengah menerima uang suap terkait sejumlah proyek di wilayahnya.

Untuk diketahui, Marianus Sae juga tercatat sebagai salah satu peserta Pilkada 2018.

Ia berpasangan dengan Emilia J Nomleni dengan mendapat dukungan dari PDIP dan PKB.

Akibat aksi hebohnya kali terakhir ini, Marianus tercancam sanksi dari partai pimpinan Megawati Soekarnoputri.

“Standar, kalau OTT biasanya dipecat langsung,” ungkap politisi senior PDIP, Eva Kusuma Sundari.

Download aplikasi PojokSatu.id dapat hadiah menarik setiap hari

(aim/JPC/pojoksatu)



loading...

Feedss