Solusi Dedi Mulyadi untuk Masalah Peternak Sapi Perah di Lembang Jawa Barat

Dedi Mulyadi saat berbincang dengan salah seorang warga peternak sapi di Desa Kahuripan, Lembang, Bandung Barat.

Dedi Mulyadi saat berbincang dengan salah seorang warga peternak sapi di Desa Kahuripan, Lembang, Bandung Barat.

POJOKSATU,id-Bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memenuhi undangan para peternak sapi perah di Desa Kahuripan, Lembang, Bandung Barat.

Kehadiran Dedi digunakan oleh para peternak tersebut untuk berkonsultasi terkait masalah yang selama ini mereka hadapi.

Salah seorang peternak sapi, Isah Khadijah (57) mengeluhkan kesulitan mencari rumput untuk pakan sapi. Kata dia, lahan yang ditumbuhi tanaman liar itu kini sulit didapat di wilayah Lembang dan sekitarnya.

Karenanya, dia pernah sampai ke sebuah desa yang termasuk ke dalam wilayah Purwakarta untuk sekedar mencari rumput.

“Disini sekarang susah rumput. Saya bahkan pernah sampai Kiarapedes, Purwakarta,” kata Isah sambil menggendong keranjang rumput.

Isah sendiri mengaku membutuhkan 60 kg rumput untuk pakan sapi ternaknya. Jika jumlah tersebut tidak bisa terpenuhi, dapat dipastikan kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan akan jelek.

“Gendong 60 kg rumput sehari. Kalau kurang nanti sapinya stres gak mau diperah. Kalau pun bisa, susunya pasti jelek,” katanya.

Selain kesulitan pada aspek produksi, Isah bersama peternak lain juga mengeluhkan aspek pemasaran dari susu hasil produksi mereka. “Jualnya sekarang juga sulit Pak,” ujarnya.

Solusi Dedi Mulyadi

Sebagai sesama peternak, Dedi kemudian memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Ia memaparkan tiga solusi yang dapat dilakukan.

Pertama, kata Dedi, ladang tempat rumput tumbuh harus diperbanyak. Ini dapat dilakukan dengan cara membangun kerjasama lintas stakeholder. Pihak PTPN, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah kabupaten/kota melakukan penanaman rumput secara massif.

“Saya kira tidak akan merusak. Boleh juga anak-anak sekolah menanam rumput, mereka bisa punya lahan binaan,” katanya.

Terkait pemasaran, pria yang dikenal dekat dengan kalangan Marhaenis ini lebih memilih berkaca pada programnya yang sudah dilaksanakan di Purwakarta. Kata dia, siswa SD dan SMP diwajibkan mengkonsumsi susu seminggu sekali.

Kebutuhan susu per minggu ini, menurut dia, dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi susu perah di Lembang.

“Kalau di Purwakarta itu kan setiap hari Jum’at anak SD dan SMP dikasih susu gratis. Ke depan kan bisa begini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota setempat membeli susu dari peternak, dibagikan secara gratis kepada mereka,” ujarnya.

Secara jangka panjang, proses produksi dan pemasaran susu sapi dapat dikelola oleh BUMDES. Sehingga, seluruh proses tersebut dapat mendapatkan pendampingan dengan baik.

“BUMDES saya kira bisa juga mengelola ini semua, mulai dari problem hulu dan hilirnya. Sehingga produksi sampai pemasaran itu terkelola,” tandasnya.

Masalah yang dialami oleh para peternak tersebut merupakan masalah yang sama yang juga dialami oleh Dedi. Pengalaman Dedi sebagai peternak domba sejak kecil diakuinya telah menjadi guru.

“Saya mah da tukang ngangon jadi apal. (Saya mah seorang penggembala, jadi hafal),” pungkasnya.

(*/ysp/pojoksatu)


loading...

Feeds