KPK Jemput Paksa Mantan Pengacara Setya Novanto

Fredrich Yunadi. Foto via Indopos

Fredrich Yunadi. Foto via Indopos

POJOKSATU.id –Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Jumat (13/01) malam dikabarkan melakukan upaya jemput paksa terhadap mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi. Fredrich dijemput paksa usai mangkir dari panggilan KPK untuk diperiksa sebagai tersangka.

Menanggapi adanya upaya jemput paksa tersebut, kuasa hukum Fredrich Sapriyanto Refa membenarkannya. “Ya benar,” kata Sapri ketika dihubungi Jumat (12/01) malam. Sementara itu, ketika ditanya lebih lanjut perihal di mana dijemputnya, Sapri enggan memberikan pernyataan lagi dan langsung menutup telefon selulernya.

Sementara itu, usai tiba di KPK Sabtu (13/01) sekitar pukul 00.11 WIB, Fredrich enggan memberikan komentar banyak ketika dikonfirmasi perihal upaya jemput paksa yang dilakukan terhadapnya.”Tidak ada komentar,”ucapnya singkat sembari berjalan menuju ruang pemeriksaan.

Terpisah, dikonfirmasi perihal adanya upaya hukum jemput paksa tersebut, juru bicara KPK Febri Diansyah membenarkannya.” Penangkapan dilakukan karena yang bersangkutan diduga keras melakukan tindak pidana,” kata Febri. Dalam melakukan penangkapan tersebut, pihak KPK katanya, dibantu oleh aparat kepolisian.” Kami minta bantuan Polri dalam melakukan penangkapan itu,” tandasnya.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi resmi menetapkan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi sebagai tersangka. Selain Fredrich Yunadi, penyidik juga menetapkan dr. Bhimanes Sutarjo sebagai tersangka kasus dugaan mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung, penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan e-KTP tahun 2011-2013, atas nama tersangka Setya Novanto.

“KPK meningkatkan status penanganan kasus perkara tersebut, sejalan dengan penetapan dua orang tersebut sebagai tersangka,“ terang Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/01) petang.

Menurutnya, penetapan tersangka ini dilakukan, pasalnya baik Fredrich Yunadi maupun Bhimanes berupaya merekayasa sakit yang dialami Novanto, pasca insiden kecelakaan yang dialami Novanto pada Kamis (16/11/2017). Usai mendapatkan bukti permulaan yang cukup dan memeriksa sebanyak 35 orang saksi dan ahli dalam penyelidikan kasus ini, maka diputuskan untuk meningkatkan status keduanya sebagai tersangka.

Atas perbuatannya, baik Fredrich Yunadi maupun Bhimanes, disangka melanggar Pasal 21 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No.20 Tahun 2011 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Pidana. Sementara itu, atas pasal yang disangkakan, keduanya terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

(iml/rgm/jpg)


Feeds